Journal of Baltic Science Education, Vol. 15, No. 4, 2016

ABSTRACT
Misconception is one of the most widely researched topics in science education, including chemical education. This research aims to apply simple graphical visualization tool named Winplot for a learning exercise activity and explore its potency to counter misconceptions about orbitals and quantum numbers. Misconceptions that were countered in this research are the existence of orbitals in atoms and the relationship of magnetic quantum numbers to orbital orientation. This quasi experimental research using pre-test-post-test control group design was conducted to 43 first-year undergraduate students as control class and 45 as experimental class of chemical education at the University of Lampung. The students’ pre-existing concepts were analyzed using a pre-test instrument and explored further using in-depth interview. Then, after implementing a learning exercise activity, the conceptual changes were analyzed using a post-test instrument. The results showed that students in experimental class had significant conceptual changes compared to control class. Applying this computerbased strategy is highly recommended to guide students in understanding chemical concepts, especially the topics of orbitals and quantum numbers.

Please download the full text at this link: http://www.scientiasocialis.lt/jbse/?q=node/516

Iklan

The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication. December 2017 Special Edition (VOLUME7-DCMSPCL).

ABSTRACT
Student’s mental models in this study was built through model-based learning with multiple representations. The samples in this study was conducted through random cluster sampling with the study subjects were taken from a high school student in Lampung Province. The selected number of samples as many as two classes of students grade 10 and students involved in this study as 76 peoples. Mental models of the students was measured through tests in the form of an essay. This test is a test of creative problem solving to look at the ability of the student’s imagination. The results showed that (1) After learning by using multiple representations strategy, mental models abilities of students becomes higher, which is located at the level of intermediate-3; (2) Multiple representation strategies give a high influence to the improvement of the students’ mental models to the concept of atomic structure. These findings indicate that learning by multiple representations strategy could been alternative strategy in the teaching of chemistry to solve problems creatively, particularly concepts related to the phenomenon of sub-microscopic, macroscopic and symbolic.

Please download the full text at this link: http://tojdac.org/tojdac/VOLUME7-DCMSPCL.html

Science Education International
Vol. 26, Issue 2, 2015, 104-125

ABSTRACT: The aim of this research is identify the effectiveness of a multiple representation-based learning model, which builds a mental model within the concept of atomic structure. The research sample of 108 students in 3 classes is obtained randomly from among students of Mathematics and Science Education Studies using a stratified random sampling technique. The same number of students formed the control group. In the experimental class, the learning was conducted by using multiple representations, whereas the control classes undertook conventional learning. Result of the research shows that (1) Learning with multiple representations is more effective in constructing students’ mental models in understanding the concept of atomic structure compared with the conventional learning; (2) Learning with multiple representations is suitable for lessons in classes where the students have low capability level to keep up with those who have a medium and high capability level. These findings indicate that lessons, which involve the macro-sub-micro-symbolic phenomena using multiple representations, may improve their mental model and effectiveness of atomic structure studies. The learning model is discussed as an alternative in class lessons in order for the students with initially low capability to keep up with those of medium and high capability in constructing their mental models.

Ingin dapat file lengkapnya kunjungi link ini: www.icaseonline.net/sei/june2015/p1.pdf

Esensi dari kurikulum 2013 adalah pembentukan sikap (KI 1 dan KI 2) melalui pembelajaran KI 3 (pengetahuan) dan KI 4 (keterampilan). Dengan demikian, orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus proses pembelajaran yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran tidak langsung. Pada proses pembelajaran langsung, peserta didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran tersebut peserta didik melakukan kegiatan belajar mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau menganalisis, dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya atau yang dikenal dengan 5M pengalaman belajar. Pembelajaran tidak langsung adalah proses pendidikan yang terjadi selama proses pembelajaran langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap (Sumber: Lampiran Pemendikbud No. 81a Tahun 2013).

Bila mengacu pada dokumen kurikulum 2013 tersebut, nampak bahwa model pembelajaran SiMaYang dapat membantu guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran untuk mengintegrasikan berbagai keterampilan (soft skill dan hard skill). Pembelajaran dengan mengintegrasikan soft skill dan hard skill akan mampu meningkatkan keseimbangan antara kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Model pembelajaran SiMaYang merupakan model pembelajaran yang menekankan pada interkoneksi tiga level fenomena kimia, yaitu level submikro yang bersifat abstrak, level simbolik, dan level makro yang bersifat nyata dan kasat mata. Pembelajaran kimia dengan melibatkan fenomena makro, submikro, dan simbolik akan berdampak pada pembentukan sikap peserta didik, baik sikap spiritual (KI 1) maupun sikap sosial (KI 2). Dengan melihat, mencoba sendiri, dan melibatkan diri dalam melakukan kegiatan imajinasi untuk mnginterpretasikan dan mentransformasikan fenomena-fenomena kimia tersebut, peserta didik diharapkan mampu meningkatkan dan mengembangkan pengetahuannya, keterampilannya, dan sikapnya (spiritual dan sosial).

Berdasarkan uraian di atas, nampak ada kesesuaian antara model pembelajaran SiMayang dengan kurikulum 2013. Pada kurikulum 2013 proses pembelajaran yang dianjurkan adalah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik yang terdiri atas lima pengalaman belajar pokok (5M) yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/mengolah informasi, dan mengkomunikasikan. Sejak fase orientasi sampai fase evaluasi selalu terjadi kegiatan menanya (tanya-jawab). Pada fase eksplorasi-imajinasi ada kegiatan mengamati (mengamati demonstrasi, mengamati animasi, mengamati gambar visual, dan sebagainya), dan juga ada kegiatan mengumpulkan informasi pada penelusuran pengetahuan melalui webpage/weblog dan mengolah informasi melalui kegiatan menalar dalam berlatih melakukan imajinasi representasi terhadap fenomena sub-mikroskopis dalam kelompok diskusi. Kegiatan mengolah informasi dan mengkomunikasikan juga muncul pada fase internaslisasi, yaitu pada saat siswa/mahasiswa melakukan imajinasi dalam kegiatan individu dan pada fase ini juga siswa/mahasiswa melakukan kegiatan presentasi (menyajikan dan saling mengomentari). Pada fase terakhir (evaluasi), juga muncul kegiatan mengkomunikasikan, yaitu pada kegiatan reviu hasil kerja mahasiswa yang dapat berupa kegiatan menyimpulkan dan pemberian tugas agar mahasiswa berlatih sendiri di rumah.

Berdasarkan uraian di atas, nampaknya pengembangan model pembelajaran SiMaYang yang dilakukan sejak tahun 2010 dan diujicoba selama 2 tahun (2011 dan 2012) telah mengantisipasi perubahan kurikulum. Pembentukan sikap akan terwujud ketika peserta didik/pembelajar (siswa/mahasiswa) memahami ketiga fenomena kimia yan dihubungkan dengan fakta dalam kehidupan sehari-hari dan juga dengan keyakinan akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (sikap spriritual). Adanya kegiatan diskusi dan menyelesaiakan masalah secara kelompok diharapkan peserta didik memiliki sikap yang baik dalam bekerjasama dengan orang lain (sikap sosial). Adanya kegiatan saling mengomentari hasil kerja teman dan interaksi antara guru/dosen dengan siswa/mahasiswa, diharapkan mampu membentuk sikap saling menghormati sesama (sikap sosial). Kegiatan individu dan presentasi diharapkan peserta didik memiliki sikap jujur dan bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain (sikap sosial). Kegiatan mengamati, mengolah, dan menganalisis informasi tentang berbagai fenomena kimia (baik dari demonstrasi maupun dari media visual) diharapkan peserta didik memiliki sikap teliti (sikap sosial). Dengan demikian, melalui pembelajaran SiMaYang, sikap spiritual (KI 1) dan sikap sosial (KI 2), serta keterampilan (KI 4) baik soft skill maupun hard skill dapat dibentuk atau ditingkatkan.

Sesungguhnya pembelajaran kimia adalah pembelajaran berkarakter, jika kita lakukan secara kreatif dan inovatif. Banyak hal dalam pembahasan kimia yang terkait dengan kehidupan baik secara pribadi maupun sosial dan lingkungan. Memahami akan pentingnya ilmu kimia dalam kehidupan kita, akan mengarahkan kita pada hidup sehat dan diridhoi oleh Allah S.W.T. Pemahaman kimia yang sepenggal-sepenggal akan berdampak buruk dan akan menimbulkan penyelewengan terhadap makna filosofi dari ilmu kimia itu sendiri.
Contoh sederhana adalah penggunaan bahan berbahaya pada makanan (misalnya boraks, formalin, pemutih, zat warna tekstil, dsb) untuk menambah kualitas, rasa, dan agar tidak mudah membusuk dari produk makanan yang dibuat. Para pedagang dan pengguna bahan2 tersebut bukanlah orang yg tidak berpendidikan. Rata-rata mereka adalah pernah duduk dibangku sekolah menengah (SMP, SMA/SMK teknologi), artinya mereka telah mengenal kimia dan juga mengenal efek baik atau buruknya dari bahan kimia bila dicampur pada makanan yang kita makan. Belum lagi kasus penyiraman air keras (dari HCl) kepada penumpang bis yang dilakukan oleh oknum pelajar SLTA beberapa waktu lalu.
Jika kita renungkan dan kita instropeksi diri, maka mungkin ini adalah kegagalan kita dalam membelajarkan kimia pada anak, selama ini kita hanya berkutak pada “pembelajaran berbasis pada pengetahuan (learning based on the knowledge)” saja, belum mengarahkan pembelajaran kimia kearah “pembelajaran berbasis pada pengetahuan untuk mencapai perilaku yang baik (learning based on the knowledge to achieve a good behavior).”

Oleh: sunyonoms | September 24, 2013

3. Mengapa Susu Magnesia dapat Berfungsi sebagai Antasid?

Suatu senyawa yang mengandung magnesium (susu magnesium) seringkali dijadikan obat-obatan sehari-hari. Apa yang membuat susu magnesium dapat menjadi antasida yang efektif?
Dalam farmakologi, kata “susu” merujuk pada suatu suspensi berair dari obat tak larut dalam air (water-insoluble). Susu antasida magnesium berisi larutan jenuh garam magnesium hidroksida. Magnesium hidroksida tidak mudah larut dalam air, dan larutan jenuh zat ini hanya berarti bila magnesium hidroksida ditambahkan ke dalam air yang cukup banyak sehingga tidak semua zat padat yang ada pada susu magnesium akan larut. Alih-alih padatan akan mengendap ke dasar wadah dan partikel-partikel padat lainnya tetap tersuspensi dalam larutan, sehingga dapat dikarakterisasi sebagai “susu”.
Sejumlah kecil magnesium hidroksida yang tidak larut dalam air akan menghasilkan komponen basa (ion hidroksida) yang akan menetralkan asam dalam perut. Secara kimiawi, kelarutan (S) dari magnesium hidroksida (dalam satuan mol per liter) dapat dihitung dari konstanta kesetimbangan (produk kelarutan) pada pelarutan garam. Untuk (S) sama dengan mol per liter Mg(OH)2 terlarut: REAKSI SUSU MAGNESI
Dengan berat molekul magnesium hidroksida sebesar 58,3 g/mol, kelarutannya setara dengan 8,36 mg per liter. Misalnya, produk Bayer: “Original Phillips’ Milk of Magnesia” mengandung 400 mg magnesium hidroksida per sendok teh (volume diperkirakan 5 ml) atau 8,00 x 104 mg per liter. Jelas susu magnesium tersebut adalah larutan jenuh! Dari jumlah Mg(OH)2 terlarut, pH larutan dapat ditentukan:
Ph SUSU MAGNESIA_2
Sifat alkali dari larutan jenuh Mg(OH)2 menghasilkan kemampuan sebagai antasid pada obat tersebut yang lebih efektif dibanding antasida yang lain. Perlu diingat bahwa karena hanya sedikit jumlah Magnesium yang diserap, penggunaan sediaan magnesium pada penderita ginjal, sebaiknya berhati-hati, karena ion magnesium dalam usus akan diabsorpsi dan cepat diekskresi melalui ginjal. Larutan jenuh Mg(OH)2 mempunyai efek samping:
a). menyebabkan efek katartik, sebab magnesium yang larut tidak diabsorpsi, tetap berada dalam usus dan akan menarik air.
b). Sebanyak 5 – 10% magnesium diabsorpsi dan dapat menimbulkan kelainan seperti; neurologi, neuromuscular, dan kardiovaskuler (Anonim, 2007).

SUMBER:
1). Anonymous2. 2007. Catatan kuliah Farmakologi Dasar “Antasida”. Pada situs: http://www.portal.htm. Diakses: 22 Desember 2012.
2). Karukstis, K.K. & Gerald, R.V.H. 2003. Chemistry Connections. Second Edition Senior Publishing Editor. Elsevier Science. USA.
3). Lister, T., 1994. Classic Chemistry Demonstrations. Published by the Education Division, The Royal Society of Chemistry. London.
4). Shakhashiri, B.Z., 1983. Chemical Demonstrations: “A Handbook for Teachers of Chemistry.” Univ of Wisconsin Press.
5). Sunyono, 2013. Serba-Serbi Mengajarkan Kimia dengan Imajinasi, Menyenangkan, dan Berkarakter (Pesona Kimia_1). Penerbit: Aura-Publishing. Bandar Lampung.

Akhir-akhir ini para praktisi pendidikan ramai membicarakan kurikulum 2013, tentu saja yang dibicarakan adalah implementasinya di lapangan. Pada tulisan ini, saya hanya ingin berbagi dan mengajak diskusi dengan teman-teman guru tentang penerapan kurikulum 2013 untuk bidang studi Kimia SMA/MA.
Sebagaimana saya uraikan pada tulisan sebelumnya (disini) bahwa esensi dari kurikulum 2013 adalah pembentukan sikap (KI 1 dan KI 2) melalui integrasi pembelajaran pengetahuan (KI 3) dan keterampilan (KI 4). Ini yang sering dilupakan oleh beberapa pendidik bahkan instruktur. Kenyataan ini dapat dilihat salah satunya dari cara mereka menyusun perencanaan pembelajaran (RPP). Hasil pengamatan penulis pada beberapa guru (dalam hal ini adalah kimia) memperlihatkan bahwa teman-teman masih belum memahami dengan benar esensi kurikulum 2013, dimana RPP yang disusun masih memprioritaskan pengetahuan (KI 3) dan keterampilan (KI 4), bahkan sikap (KI 1 dan KI 2) tidak terlihat sama sekali dalam RPP. Jika ini terjadi, maka timbul pertanyaan: Apa bedanya kurikulum yang sekarang dengan kurikulum 2013…? Dalam perencanaannya saja belum mampu menonjolkan sikap, apalagi pelaksanaan pembelajarannya di kelas. Oleh sebab itu, sebaiknya para instruktur yang memberikan pelatihan tentang kurikulum 2013 lebih memfokuskan pada bagaimana mengintegrasikan sikap dalam pembelajaran, baik dalam merumuskan perencanaan, pelaksanaan pembelajaran di kelas bahkan sampai pada penilaian dan evaluasinya.
Mengamati beberapa diklat yang di selenggarakan di daerah khususnya untuk mata pelajaran kimia, nampaknya masih belum menyentuh esensi dari kurikulum 2013, dan ini menurut hemat saya akan sangat mengkhawatirkan terhadap keberlangsungan dari kurikulum 2013. Apa yang saya khawatirkan semula (pada post Menilik Sekilas Draf Kurikulum 2013), bahwa bila para instruktur yang mengemban amanah untuk mensosialisasikan tidak dipilih dengan baik (melalui seleksi), maka bisa diprediksikan nasib kurikulum 2013 tidak berbeda dengan nasib kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu hanya bagus pada tataran konsep namun nihil dalam tataran implementasi. Demikian pula, daerah yang menyelenggarakan diklat kurikulum 2013 sebaiknya benar-benar memilih instruktur yang memang sudah mememiliki wawasan dan pengetahuan yang baik tentang kurikulum 2013 dan implementasinya. Jika tidak, maka dapat dipastikan para guru peserta diklat tidak akan memahami dengan baik kurikulum tersebut bahkan mereka cenderung semakin bingung. Ini akan memberikan konstribusi terhadap kegagalan kurikulum 2013. Apalagi selama diklat, mereka (para guru peserta) tidak dibekali dengan berlatih menyusun perencanaan dan membelajarkannya di kelas. Insya Alloh…. hal tersebut tidak akan terjadi, jika pihak-pihak terait menyadarinya.
Mendengar dan menyimak kebungungan teman-teman guru kimia terhadap kurikulum 2013 dan implementasinya, meskipun mereka katanya telah mengikuti pelatihan, saya berusaha untuk memberikan sedikit pencerahan apa yang saya ketahui, meskipun saya sadar betul bahwa tingkat pengetahuan saya masihlah dangkal. Mudah2an tulisan-tulisan saya yang terkait dengan kurikulum 2013 dapat memberikan sedikit wawasan dan pengetahuan untuk dijadikan acuan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013.
Sebenarnya tak perlu risau dengan implementasi dari kurikulum 2013, karena dalam rangka pelaksanaan kurikulum 2013, pemerintah melalui Kemendikbud RI telah menerbitkan peraturan baru tentang Implementasi Kurikulum yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013. Dalam peraturan ini memuat pedoman-pedoman dalam melaksanakan/mengimplementasikan kurikulum 2013. Pedoman-pedoman tersebut tercantum dalam Lampiran permendikbud-nomor-81a-tahun-2013-tentang-implementasi-kurikulum, yang memuat pedoman-pedoman mulai dari perencanaan sampai pada evaluasi, yaitu:
1. lampiran-i-pedoman-pengembangan-kurikulum-tingkat-satuan-pendidikan;
2. lampiran-ii-pedoman-pengembangan-muatal-lokal;
3. lampiran-iii-pedoman-kegiatan-ekstrakurikuler;
4. lampiran-iv-pedoman-umum-pembelajaran; dan
5. lampiran-v-pedoman-evaluasi-kurikulum.

Silahkan di download dan dipelajari untuk memandu kita dalam melaksanakan kurikulum 2013. Selanjutnya, saya share silabus kimia kelas X, XI, dan XII untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan RPP. Teknik penyusunan RPP bidang studi kimia telah saya jelaskan pada post sebelumnya (disini).
Ingin download silabus kimia kurikulum 2013…? Silahkan klik link berikut:
1. silabus-kimia-sma-kls-x-12mei-2013-1-tahun
2. silabus-kimia-sma-kls-xi-12mei-2013-1-tahun
3. silabus-kimia-sma-kls-xii-12mei-2013-1-tahun

Selamat melaksanakan kurikulum 2013. Ingat bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 dalam pembelajaran di kelas sebaiknya menggunakan scientific approach (mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menalar, menganalisis, dan menympulkan). Oleh sebab itu, dalam pembelajaran kimia, sebaiknya dilakukan melalui pemanfaatan kegiatan demonstrasi atau eksperimen atau mengunakan media (baik statis maupun dinamis, sepeti gambar visual, animasi, video, grafik, dsb). Untuk itu, nampaknya model pembelajaran SiMaYang cocok dengan pendekatan tersebut. Kesulitan terhadap pelaksanaan kegiatan demonstrasi atau eksperimen dengan alasan keterbatasan alat dan bahan, dapat diatasi dengan memanfaatkan percobaan-percobaan sederhana, sebagai contoh lihat post saya sebelumnya (percobaan sederhana: Pembakaran Wol Besi). Pelaksanaan pembelajaran kimia dengan mengintegrasikan sikap (karakter), keterampilan, dan pengetahuan dapat Anda baca pada post-post saya sebelumnya atau silahkan baca buku: SERBA-SERBI MENGAJARKAN KIMIA DENGAN IMAJINASI, MENYENANGKAN, DAN BERKARAKTER (Pesona Kimia – 1). Dalam buku tersebut juga diberikan beberapa percobaan-percobaan kimia sederhana dan percobaan kimia untuk permainan dan contoh-contoh pembelajaran yang berkarakter untukm pembentukan sikap (KI 1 dan KI 2).

Demikian sekilas uraian saya, mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan, bila ada yang tidak tepat mohon kritikannya sebagai bekal dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan.
GURU ADALAH PEMBINA BANGSA DAN PENJUNJUNG TINGGI MARTABAT NEGARA….!!!

EKSPERIMEN/DEMONSTRASI SEDERHANA: “PEMBAKARAN WOL BESI” SEBAGAI LANGKAH PEMBELAJARAN DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM 2013

BY: SUNYONO

Topik : Reaksi kimia – peningkatan massa pada kombinasi kimia.
Waktu : 5 menit
Level : Pengantar Kimia
Deskripsi: Wol besi dipanaskan melalui alat keseimbangan sederhana berupa ‘jungkat-jungkit,’ sehingga penambahan massa dapat ditunjukkan.

Alat-alat: 1. Pembakar Bunsen
2. Tatakan (alas) tahan panas.
3. Mistar dari kayu (100 cm)
4. Potongan aluminium foil berukuran sekitar 10 cm x 10 cm
5. Beberapa gram plasticin

Bahan Kimia: Untuk satu kali demonstrasi memerlukan sekitar 4 gram wol besi/baja.

Metoda: Lapisi ujung kiri mistar (sekitar 10 cm) dengan aluminium foil untuk melindungi kayu dari api bunsen. Ambil sekitar 4 gram wol baja/besi, biarkan sejenak agar wol baja/besi terkena udara selnjutnya taruh wol baja/besi tersebut pada ujung mistar yang telah dilapisi dengan aluminium foil. Beberapa helai wol besi akan menempel cukup baik. Setimbangkan mistar pada ujung pisau yang sesuai dengan tanda tepat pada titik 50 cm atau tengah-tengah (Lihat gambar). Pada ujung mistar lain (ujung lawannya / kanan) tempatkan beberapa gram plasticin sampai mistar miring ke kanan. Perlu dicatat dan ini penting, tempatkan alas tahan panas di bawah ujung mistar yang berisi wol besi/baja.

GBR Pembakaran Wol Besi
Panaskan wol besi langsung dengan api bunsen. Lihat wol besi akan bersinar (membara) dan beberapa potongan bara dari wol akan jatuh ke alas tahan panas. Panaskan selama sekitar satu menit sampai kesetimbangan mistar kayu akan berubah dimana ujung yang berisi wol besi/baja yang telah terbakar akan turun bawah, sehingga mistar miring ke kiri.

Tip dalam Pembelajaran: Sebelum pemanasan/pembakaran atau pada saat pemanasan/pembakaran, mintalah pada siswa Anda untuk memprediksi apakah berat wol besi akan bertambah, berkurang, atau tetap sama dengan semula.
Percobaan sederhana ini dapat dilakukan untuk membantu Anda dalam mengajarkan topik reaksi kimia atau topik reaksi oksidasi-reduksi melalui pendekatan saintifik (scientific approach), sebagaimana direkomendasikan dalam kurikulum 2013. Pendekatan ini menghendaki adanya lima pengalaman belajar pokok (5M) yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/mengolah informasi, dan mengkomunikasikan.

Selamat mengajar dengan pembelajaran yang manarik dan menyenangkan…!!!
Bravo…!!! Guru Kimia…!!!

Oleh: sunyonoms | September 1, 2013

PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS KARAKTER (Bagian II)

By: SUNYONO

Mencermati Kurikulum 2013 yang menekankan pada pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan, pembelajaran kimia di sekolah hendaknya bisa dilaksanakan secara kreatif dan inovatif dengan mengintegrasikan fenomena-fenomena dalm kehidupan sehari-hari dan juga perkembangan teknologi. Pembelajaran kimia berbasis karakter sangat memungkinkan terjalinnya keterpaduan antara pembelajaran dengan pembentukan sikap dan keterampilan, baik yang hard skills maupun yang soft skills (misalnya keterampilan berkomunikasi, keterampilan lab, atau keterampilan berpikir kritis dan kreatif, dan sebagainya). Dengan demikian, pendekatan scientific (mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan, dan menyimpulkan) yang direkomendasi oleh kurikulum 2013 dalam pembelajaran sangat relevan dengan pembelajaran kimia. Memang sudah seharusnya pembelajaran kimia dilaksanakan melalui scientific approach, bukan hanya sekedar menyampaikan materi secara konvensional (menjelaskan, memberi contoh, latihan, diskusi) yang semuanya hanya dilakukan secara verbal. Padahal, banyak sisi menarik dari pembelajaran kimia yang dapat disajikan di kelas, terutama dalam pembentukan sikap (sikap spiritual dan sosial) dan keterampilan. Berikut saya sajikan sekilas tentang pembelajaran kimia berbasis karakter dan contohnya dalam pembelajaran ikatan kimia. Bahasan dan contoh yang saya sajikan merupakan bagian dari isi buku: “Serba-Serbi Mengajar Kimia dengan Imajinasi, Menyenangkan, dan Berkarakter, ” Penerbit: Aura-publishing. ISBN: 978-602-9326-43-7 (Jilid Lengkap) dan 978-602-9326-44-4 (Jilid 1).

PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS KARAKTER DAN CONTOHNYA

A. Definisi-Definisi
Pada Pasal 3 UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Amanah UU tersebut bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama (Suyanto, 2009).

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian Akbar, A.A. (2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skills) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skills dan sisanya 80 persen oleh soft skills. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Menurut definisi Suyanto (2009), karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Dengan demikian, menurut Suyanto, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Sedangkan menurut Elkind, D. & Freddy S. (2004) bahwa
“character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Pendidikan karakter adalah usaha sengaja untuk membantu orang lain dalam memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Ketika kita berpikir tentang jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak kita, jelas bahwa kita ingin mereka bisa menilai apa yang benar, sangat peduli terhadap apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang mereka yakini benar, bahkan dalam menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam “.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, jika diimplementasikan dalam pembelajaran, pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh pendidik (guru/dosen) yang dapat mempengaruhi karakter peserta didik (siswa/mahasiswa). Dalam hal ini, guru/dsoen mempunyai kewajiban membantu membentuk watak peserta didik melalui keteladanan, mencakup bagaimana perilaku guru/dosen, cara guru/dosen berbicara atau menyampaikan materi, cara guru/dosen memberi respon terhadap pertanyaan/tanggapan/komentar peserta didik, bagaimana guru/dosen bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya, atau dapat dilakukan dengan mengintegrasikan pendidikan karakter dengan materi yang sedang atau akan dibahas. Lalu, bagaiman implementasinya dalam pembelajaran terutama kimia?

Kimia yang merupakan salah satu materi yang sangat terkait dengan kehidupan manusia, dapat berintegrasi dengan pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari, mengingat kimia selalu ada di sekitar kita dan kaya akan pesan moral yang dapat membantu dalam pembentukan karakter siswa/mahasiswa. Pada proses pembelajaran, upaya membangun pengetahuan peserta didik tentang konsep-konsep kimia, akan lebih bermakna jika siswa/mahasiswa mengalami sendiri apa yang sedang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya secara teoritis-verbalistis. Bukti menunjukkan bahwa pembelajaran yang hanya berorientasi target materi, ternyata hanya berhasil dalam pemahaman untuk kompetisi jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak untuk memecahkan masalah dan tersimpan dalam memori jangka panjang (Sagala. 2009). Oleh sebab itu, agar konsep-konsep kimia dapat lebih mudah dipahami dan dikuasai dengan baik oleh peserta didik dibutuhkan kemauan dan keuletan peserta didik dalam memilih cara belajar agar lebih bermakna, tidak hanya sekedar menghafal secara verbal. Ini adalah tugas guru/dosen, tentunya guru/dosen harus selalu berusaha meningkatkan kemauan peserta didik dalam mencari hubungan konseptual kehidupan sehari-hari dengan pengetahuan yang telah dimiliki atau yang sedang dipelajari di dalam kelas. Dengan demikian, dalam upaya mencapai pengetahuan kimia yang mendalam, peserta didik perlu dilatih dalam mengoptimalkan kemampuan berpikir tingkat tingginya termasuk melatih agar memiliki daya kreativitas yang tinggi.

B. Contoh Pembelajaran Kimia Berbasis Karakter dalam Mengajarkan Materi Ikatan Kimia dengan Berandai-andai
Sikap yang diharapkan terbentuk:
– Sikap spiritual: (1) Mengagungkan akan kebesaran Tuhan YME; (2) Mensyukuri dan Menyadari bahwa ketetapan Tuhan YME adalah yang terbaik buat kehidupan manusia.
– Sikap sosial: (1) peduli lingkungan; (2) Menghargai sesama; (3) Jujur dan berani mengatakan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar.
Keterampilan: soft skills (keterampilan berkomunikasi, keterampilan berpikir tingkat tinggi: kritis dan kreatif)
Selain dimuat di buku juga pernah dimuat di Fb. Sun Yono Won pada 22 Oktober 2011 pukul 13:58).

Mari kita simak contoh pembelajaran ikatan kimia berikut:

Pembelajaran berbasis karakter tidak mungkin terwujud jika hanya di tuliskan di RPP dan dibicarakan, karakter sebenarnya bisa diintegrasikan dengan pembelajaran kimia yang sedang berlangsung.
Contohnya kita bisa berandai-andai atau bisa juga dengan menggunakan fakta eksperimen. Misalnya: Ketika kita mengajarkan ikatan hidrogen (dilakukan pada tahap eksplorasi – imajinasi). Cobalah ajukan pertanyaan sederhana setelah siswa mempelajari konsep ikatan hidrogen melalui kegiatan eksplorasi dan imajinasi. “Bagaimana & apa yang akan terjadi seandainya air tidak membentuk ikatan hidrogran, dan air (H2O) mempunyai sifat yang sama dengan saudaranya H2S ?. Tentu saja siswa yang baru belajar ikatan kimia akan menjawab: “tidak tahu pak…, memang apa yang bakal terjadi pak…?”

Guru mengajarkan kimia dengan berbasis karakter (religius & peduli lingkungan) itu menjelaskan: “Anak-anak, menurut konsep ikatan hidrogen yang sudah kalian pelajari, seandainya air (H2O) tidak membentuk ikatan hidrogen, maka pada suhu sekitar minus 100 oC air sudah mendidih, nah jika itu terjadi tidak akan ada kehidupan di dunia ini, seperti organisme sekecil amuba, virus, bakteri, dan lain-lain yang akan mampu bertahan hidup. Begitulah hebatnya Sang Pencipta (Tuhan Yang Maha Esa) yang menciptakan alam ini dengan segenap isinya, tidak ada seorang manusia pun yang ampu membuat H2O lepas dari ikatan hidrogennya. Hebatnya lagi, dengan ikatan hidrogen yang cukup menarik dan sempurna itulah air dapat kita gunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari seperti mencuci, memasak, minum, mandi, dan sebagainya. Maha besar Tuhan dengan segala ciptaannya. Jika ikatan hidrogen dari air terputus dan diikuti oleh lepasnya ikatan kovalen antara H dan O, maka air tidak lagi utuh tetapi berubah menjadi H2 dan O2 (perhatikan percobaan elektrolisis air yang akan kita lakukan pada saat mempelajari elektrokimia nanti)”. Kemudian guru itu melanjutkan: “Oleh sebab itu anak-anak, untuk menjaga ikatan hidrogen yang sempurna itu, kita harus menjaga lingkungan kita, jangan kita cemari air kita, karena air yang tercemar menunjukkan ikatan hidrogennya tidak lagi indah sebagaimana aslinya, namun diantara kisi-kisi molekul H2O di wilayah ikatan hidrogen didomplengi oleh senyawa beracun (pencemar). Ingat bahwa air adalah sumber kehidupan kita. Relakah kalian, jika air kita telah kehilangan jati dirinya (maksudnya dengan ikatan hidrogen yang sempurna sebagaimana Gambar 4)?”

Guru itu melanjutkan: “Anak-anak, memang ikatan hidrogen merupakan sebuah ikatan yang sangat lemah dan memiliki tempo ikat yang sangat singkat. Durasi sebuah ikatan hidrogen adalah sekitar seperseratus milyar detik. Tetapi begitu sebuah ikatan hidrogen putus, ikatan hidrogen yang lainnya langsung terbentuk, begitu seterusnya dalam waktu yang super cepat. Oleh sebab itu, anak-anak, molekul-molekul air saling menempel dengan rapat meskipun juga tetap mempertahankan bentuk cairnya karena molekul-molekulnya disatukan oleh sebuah ikatan yang lemah tadi. Hayo… Ikatan apa anak-anak…?”. Salah seorang siswa bernama (sebut saja) Zirkon menjawab: “ikatan hidrogen pak…!”

“Wah, luar biasa murid bapak ini….”, Respon guru. “Baiklah anak-anak, ada yang perlu ditanyakan tentang ikatan hidrogen dari air…?” Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya. Ferri mengacungkan tangannya: “saya pak… Apakah ikatan hidrogen dari air itu juga yang menyebabkan kalo kita kepanasan, terus membasuh muka dengan air rasanya segar…?.

“Bagus sekali Ferri, pertanyaanmu sangat bagus dan kritis, bapak senang mendengarnya…”, Guru merespon. “Nah, sekarang apakah ada yang ingin memberikan jawaban…?” Setelah sekitar 2 menit, tidak ada yang mencoba memberikan jawaban/tanggapan, guru segera menjawabnya. “Baiklah anak-anak… Memang benar, adanya ikatan hidrogen ini memungkinkan air untuk melawan perubahan suhu. Walaupun suhu udara meningkat secara tiba-tiba, suhu air hanya meningkat perlahan. Demikian juga, jika suhu udara turun secara tiba-tiba, suhu air berkurang secara perlahan. Diperlukan perubahan suhu yang besar agar perubahan suhu air berlangsung cepat. Hal ini memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan, khususnya kehidupan manusia. Sebagai contoh seperti yang disebutkan oleh temanmu Ferri tadi, contoh lainnya adalah banyaknya air dalam tubuh kita. Jika air beradaptasi dengan perubahan suhu yang terjadi secara tiba-tiba di udara dengan laju perubahan yang sama, maka kita akan mengalami panas demam atau membeku secara tiba-tiba. Namun, ini tidak terjadi selama tubuh kita dalam keadaan sehat”. “Semua keistimewaan air dengan ikatan hidrogennya menunjukkan maha agungnya Sang Pencipta (Tuhan YME). Oleh sebab itu, kita wajib bersyukur akan karunia yang diberikan-Nya berupa air dengan segala keistimewaannya secara kimiawi.”

Pertanyaan berikutnya untuk pengayaan: “Nah anak-anak, kalian sudah belajar tentang ikatan hidrogen dari air. Sekarang coba pikirkan dan diskusikan dengan kelompok kalian: “bagaimana dengan air pada fasa gas dan fasa padat, apakah ikatan hidrogennya masih seperti air pada fasa cair sebagaimana Gambar 1. di bawah…?”.

Untuk menuntun siswa berdiskusi, sebaiknya guru membuatkan LKSnya dengan beberapa petunjuk dan uraian materi yang dapat menuntun siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Nah, seperti inilah kira-kira guru dalam mengajarkan ikatan kimia (khususnya ikatan hidrogen dari air), yang didiskusikan adalah masalah-masalah real (kontekstual) dan terkait dengan teori atau konsep yang sedang dipelajari. Contoh ini adalah salah satu cara melatih siswa untuk menggunakan otak kanannya, sehingga siswa memiliki kemampuan “high order thinking (berpikir tingkat tinggi)”.

Gmbr Ikatan Hidrogen
Gambar 1. Ikatan Hidrogen dari Air (H2O) (Effendy, 2011)

Referen:
1. Effendy. 2011. Aplikasi Pembelajaran IPA dalam Pembentukan Karakter Siswa. Makalah Keynote Speaker pada Seminar Nasional Pendidikan Sains di Unesa. 15 Januari 2011. Surabaya.
2. Elkin, D.H. and Freddy, S., 2004. How to Do Character. Pada situs; http://www.goodcharacter.com/article_4.html.
3. Sagala. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Penerbit: Alfabeta. Bandung.
4. Suyanto. 2009. Urgensi Pendidikan Karakter. Direktorat Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional. Situs Resmi Mendikdakmen: http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html.
5. Sunyono, 2012. Serba-Serbi Mengajarkan Kimia dengan Imajinasi, Menyenangkan, dan Berkarakter (Pesona Kimia – 1). Penerbit: Aura-Publishing. Bandar Lampung.

Oleh: sunyonoms | Agustus 20, 2013

ROBERT BOYLE (1627- 91)

A History of Science

1662 – England

‘The volume of a given mass of a gas at constant temperature is inversely proportional to its pressure’

If you double the pressure of a gas, you halve its volume. In equation form: pV = constant; or p1V1 = p2V2 where the subscripts 1 & 2 refer to the values of pressure and volume at any two readings during the experiment.

Born at Lismore Castle, Ireland, Boyle was a son of the first Earl of Cork. After four years at Eton College, Boyle took up studies in Geneva in 1638. In 1654 he moved to Oxford where in 1656, with the philosopher John Locke and the architect Christopher Wren, he formed the experimental Philosophy Club and met ROBERT HOOKE, who became his assistant and with whom he began making the discoveries for which he became famous.

In 1659, with Hooke, Boyle made an efficient vacuum pump, which he used to experiment on respiration and combustion, and showed that air is necessary for life…

Lihat pos aslinya 662 kata lagi

Oleh: sunyonoms | Agustus 20, 2013

RENE DESCARTES (1596-1650)

A History of Science

1637 – France

Cogito ergo sum‘ – The result of a thought experiment resolving to cast doubt on any and all of his beliefs, in order to discover which he was logically justified in holding.

Descartes argued that although all his experience could be the product of deception by an evil daemon, the demon could not deceive him if he did not exist.

His theory that all knowledge could be gathered in a single, complete science and his pursuit of a system of thought by which this could be achieved left him to speculate on the source and the truth of all existing knowledge. He rejected much of what was commonly accepted and only recognised facts that could intuitively be taken as being beyond any doubt.

His work ‘Meditations on First Philosophy’ (1641) is centered on his famous maxim. From this he would pursue all ‘certainties’ via…

Lihat pos aslinya 503 kata lagi

Older Posts »

Kategori