Esensi dari kurikulum 2013 adalah pembentukan sikap (KI 1 dan KI 2) melalui pembelajaran KI 3 (pengetahuan) dan KI 4 (keterampilan). Dengan demikian, orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus proses pembelajaran yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran tidak langsung. Pada proses pembelajaran langsung, peserta didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran tersebut peserta didik melakukan kegiatan belajar mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau menganalisis, dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya atau yang dikenal dengan 5M pengalaman belajar. Pembelajaran tidak langsung adalah proses pendidikan yang terjadi selama proses pembelajaran langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap (Sumber: Lampiran Pemendikbud No. 81a Tahun 2013).

Bila mengacu pada dokumen kurikulum 2013 tersebut, nampak bahwa model pembelajaran SiMaYang dapat membantu guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran untuk mengintegrasikan berbagai keterampilan (soft skill dan hard skill). Pembelajaran dengan mengintegrasikan soft skill dan hard skill akan mampu meningkatkan keseimbangan antara kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Model pembelajaran SiMaYang merupakan model pembelajaran yang menekankan pada interkoneksi tiga level fenomena kimia, yaitu level submikro yang bersifat abstrak, level simbolik, dan level makro yang bersifat nyata dan kasat mata. Pembelajaran kimia dengan melibatkan fenomena makro, submikro, dan simbolik akan berdampak pada pembentukan sikap peserta didik, baik sikap spiritual (KI 1) maupun sikap sosial (KI 2). Dengan melihat, mencoba sendiri, dan melibatkan diri dalam melakukan kegiatan imajinasi untuk mnginterpretasikan dan mentransformasikan fenomena-fenomena kimia tersebut, peserta didik diharapkan mampu meningkatkan dan mengembangkan pengetahuannya, keterampilannya, dan sikapnya (spiritual dan sosial).

Berdasarkan uraian di atas, nampak ada kesesuaian antara model pembelajaran SiMayang dengan kurikulum 2013. Pada kurikulum 2013 proses pembelajaran yang dianjurkan adalah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik yang terdiri atas lima pengalaman belajar pokok (5M) yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/mengolah informasi, dan mengkomunikasikan. Sejak fase orientasi sampai fase evaluasi selalu terjadi kegiatan menanya (tanya-jawab). Pada fase eksplorasi-imajinasi ada kegiatan mengamati (mengamati demonstrasi, mengamati animasi, mengamati gambar visual, dan sebagainya), dan juga ada kegiatan mengumpulkan informasi pada penelusuran pengetahuan melalui webpage/weblog dan mengolah informasi melalui kegiatan menalar dalam berlatih melakukan imajinasi representasi terhadap fenomena sub-mikroskopis dalam kelompok diskusi. Kegiatan mengolah informasi dan mengkomunikasikan juga muncul pada fase internaslisasi, yaitu pada saat siswa/mahasiswa melakukan imajinasi dalam kegiatan individu dan pada fase ini juga siswa/mahasiswa melakukan kegiatan presentasi (menyajikan dan saling mengomentari). Pada fase terakhir (evaluasi), juga muncul kegiatan mengkomunikasikan, yaitu pada kegiatan reviu hasil kerja mahasiswa yang dapat berupa kegiatan menyimpulkan dan pemberian tugas agar mahasiswa berlatih sendiri di rumah.

Berdasarkan uraian di atas, nampaknya pengembangan model pembelajaran SiMaYang yang dilakukan sejak tahun 2010 dan diujicoba selama 2 tahun (2011 dan 2012) telah mengantisipasi perubahan kurikulum. Pembentukan sikap akan terwujud ketika peserta didik/pembelajar (siswa/mahasiswa) memahami ketiga fenomena kimia yan dihubungkan dengan fakta dalam kehidupan sehari-hari dan juga dengan keyakinan akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (sikap spriritual). Adanya kegiatan diskusi dan menyelesaiakan masalah secara kelompok diharapkan peserta didik memiliki sikap yang baik dalam bekerjasama dengan orang lain (sikap sosial). Adanya kegiatan saling mengomentari hasil kerja teman dan interaksi antara guru/dosen dengan siswa/mahasiswa, diharapkan mampu membentuk sikap saling menghormati sesama (sikap sosial). Kegiatan individu dan presentasi diharapkan peserta didik memiliki sikap jujur dan bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain (sikap sosial). Kegiatan mengamati, mengolah, dan menganalisis informasi tentang berbagai fenomena kimia (baik dari demonstrasi maupun dari media visual) diharapkan peserta didik memiliki sikap teliti (sikap sosial). Dengan demikian, melalui pembelajaran SiMaYang, sikap spiritual (KI 1) dan sikap sosial (KI 2), serta keterampilan (KI 4) baik soft skill maupun hard skill dapat dibentuk atau ditingkatkan.

Sesungguhnya pembelajaran kimia adalah pembelajaran berkarakter, jika kita lakukan secara kreatif dan inovatif. Banyak hal dalam pembahasan kimia yang terkait dengan kehidupan baik secara pribadi maupun sosial dan lingkungan. Memahami akan pentingnya ilmu kimia dalam kehidupan kita, akan mengarahkan kita pada hidup sehat dan diridhoi oleh Allah S.W.T. Pemahaman kimia yang sepenggal-sepenggal akan berdampak buruk dan akan menimbulkan penyelewengan terhadap makna filosofi dari ilmu kimia itu sendiri.
Contoh sederhana adalah penggunaan bahan berbahaya pada makanan (misalnya boraks, formalin, pemutih, zat warna tekstil, dsb) untuk menambah kualitas, rasa, dan agar tidak mudah membusuk dari produk makanan yang dibuat. Para pedagang dan pengguna bahan2 tersebut bukanlah orang yg tidak berpendidikan. Rata-rata mereka adalah pernah duduk dibangku sekolah menengah (SMP, SMA/SMK teknologi), artinya mereka telah mengenal kimia dan juga mengenal efek baik atau buruknya dari bahan kimia bila dicampur pada makanan yang kita makan. Belum lagi kasus penyiraman air keras (dari HCl) kepada penumpang bis yang dilakukan oleh oknum pelajar SLTA beberapa waktu lalu.
Jika kita renungkan dan kita instropeksi diri, maka mungkin ini adalah kegagalan kita dalam membelajarkan kimia pada anak, selama ini kita hanya berkutak pada “pembelajaran berbasis pada pengetahuan (learning based on the knowledge)” saja, belum mengarahkan pembelajaran kimia kearah “pembelajaran berbasis pada pengetahuan untuk mencapai perilaku yang baik (learning based on the knowledge to achieve a good behavior).”

Oleh: sunyonoms | September 24, 2013

3. Mengapa Susu Magnesia dapat Berfungsi sebagai Antasid?

Suatu senyawa yang mengandung magnesium (susu magnesium) seringkali dijadikan obat-obatan sehari-hari. Apa yang membuat susu magnesium dapat menjadi antasida yang efektif?
Dalam farmakologi, kata “susu” merujuk pada suatu suspensi berair dari obat tak larut dalam air (water-insoluble). Susu antasida magnesium berisi larutan jenuh garam magnesium hidroksida. Magnesium hidroksida tidak mudah larut dalam air, dan larutan jenuh zat ini hanya berarti bila magnesium hidroksida ditambahkan ke dalam air yang cukup banyak sehingga tidak semua zat padat yang ada pada susu magnesium akan larut. Alih-alih padatan akan mengendap ke dasar wadah dan partikel-partikel padat lainnya tetap tersuspensi dalam larutan, sehingga dapat dikarakterisasi sebagai “susu”.
Sejumlah kecil magnesium hidroksida yang tidak larut dalam air akan menghasilkan komponen basa (ion hidroksida) yang akan menetralkan asam dalam perut. Secara kimiawi, kelarutan (S) dari magnesium hidroksida (dalam satuan mol per liter) dapat dihitung dari konstanta kesetimbangan (produk kelarutan) pada pelarutan garam. Untuk (S) sama dengan mol per liter Mg(OH)2 terlarut: REAKSI SUSU MAGNESI
Dengan berat molekul magnesium hidroksida sebesar 58,3 g/mol, kelarutannya setara dengan 8,36 mg per liter. Misalnya, produk Bayer: “Original Phillips’ Milk of Magnesia” mengandung 400 mg magnesium hidroksida per sendok teh (volume diperkirakan 5 ml) atau 8,00 x 104 mg per liter. Jelas susu magnesium tersebut adalah larutan jenuh! Dari jumlah Mg(OH)2 terlarut, pH larutan dapat ditentukan:
Ph SUSU MAGNESIA_2
Sifat alkali dari larutan jenuh Mg(OH)2 menghasilkan kemampuan sebagai antasid pada obat tersebut yang lebih efektif dibanding antasida yang lain. Perlu diingat bahwa karena hanya sedikit jumlah Magnesium yang diserap, penggunaan sediaan magnesium pada penderita ginjal, sebaiknya berhati-hati, karena ion magnesium dalam usus akan diabsorpsi dan cepat diekskresi melalui ginjal. Larutan jenuh Mg(OH)2 mempunyai efek samping:
a). menyebabkan efek katartik, sebab magnesium yang larut tidak diabsorpsi, tetap berada dalam usus dan akan menarik air.
b). Sebanyak 5 – 10% magnesium diabsorpsi dan dapat menimbulkan kelainan seperti; neurologi, neuromuscular, dan kardiovaskuler (Anonim, 2007).

SUMBER:
1). Anonymous2. 2007. Catatan kuliah Farmakologi Dasar “Antasida”. Pada situs: http://www.portal.htm. Diakses: 22 Desember 2012.
2). Karukstis, K.K. & Gerald, R.V.H. 2003. Chemistry Connections. Second Edition Senior Publishing Editor. Elsevier Science. USA.
3). Lister, T., 1994. Classic Chemistry Demonstrations. Published by the Education Division, The Royal Society of Chemistry. London.
4). Shakhashiri, B.Z., 1983. Chemical Demonstrations: “A Handbook for Teachers of Chemistry.” Univ of Wisconsin Press.
5). Sunyono, 2013. Serba-Serbi Mengajarkan Kimia dengan Imajinasi, Menyenangkan, dan Berkarakter (Pesona Kimia_1). Penerbit: Aura-Publishing. Bandar Lampung.

Akhir-akhir ini para praktisi pendidikan ramai membicarakan kurikulum 2013, tentu saja yang dibicarakan adalah implementasinya di lapangan. Pada tulisan ini, saya hanya ingin berbagi dan mengajak diskusi dengan teman-teman guru tentang penerapan kurikulum 2013 untuk bidang studi Kimia SMA/MA.
Sebagaimana saya uraikan pada tulisan sebelumnya (disini) bahwa esensi dari kurikulum 2013 adalah pembentukan sikap (KI 1 dan KI 2) melalui integrasi pembelajaran pengetahuan (KI 3) dan keterampilan (KI 4). Ini yang sering dilupakan oleh beberapa pendidik bahkan instruktur. Kenyataan ini dapat dilihat salah satunya dari cara mereka menyusun perencanaan pembelajaran (RPP). Hasil pengamatan penulis pada beberapa guru (dalam hal ini adalah kimia) memperlihatkan bahwa teman-teman masih belum memahami dengan benar esensi kurikulum 2013, dimana RPP yang disusun masih memprioritaskan pengetahuan (KI 3) dan keterampilan (KI 4), bahkan sikap (KI 1 dan KI 2) tidak terlihat sama sekali dalam RPP. Jika ini terjadi, maka timbul pertanyaan: Apa bedanya kurikulum yang sekarang dengan kurikulum 2013…? Dalam perencanaannya saja belum mampu menonjolkan sikap, apalagi pelaksanaan pembelajarannya di kelas. Oleh sebab itu, sebaiknya para instruktur yang memberikan pelatihan tentang kurikulum 2013 lebih memfokuskan pada bagaimana mengintegrasikan sikap dalam pembelajaran, baik dalam merumuskan perencanaan, pelaksanaan pembelajaran di kelas bahkan sampai pada penilaian dan evaluasinya.
Mengamati beberapa diklat yang di selenggarakan di daerah khususnya untuk mata pelajaran kimia, nampaknya masih belum menyentuh esensi dari kurikulum 2013, dan ini menurut hemat saya akan sangat mengkhawatirkan terhadap keberlangsungan dari kurikulum 2013. Apa yang saya khawatirkan semula (pada post Menilik Sekilas Draf Kurikulum 2013), bahwa bila para instruktur yang mengemban amanah untuk mensosialisasikan tidak dipilih dengan baik (melalui seleksi), maka bisa diprediksikan nasib kurikulum 2013 tidak berbeda dengan nasib kurikulum-kurikulum sebelumnya, yaitu hanya bagus pada tataran konsep namun nihil dalam tataran implementasi. Demikian pula, daerah yang menyelenggarakan diklat kurikulum 2013 sebaiknya benar-benar memilih instruktur yang memang sudah mememiliki wawasan dan pengetahuan yang baik tentang kurikulum 2013 dan implementasinya. Jika tidak, maka dapat dipastikan para guru peserta diklat tidak akan memahami dengan baik kurikulum tersebut bahkan mereka cenderung semakin bingung. Ini akan memberikan konstribusi terhadap kegagalan kurikulum 2013. Apalagi selama diklat, mereka (para guru peserta) tidak dibekali dengan berlatih menyusun perencanaan dan membelajarkannya di kelas. Insya Alloh…. hal tersebut tidak akan terjadi, jika pihak-pihak terait menyadarinya.
Mendengar dan menyimak kebungungan teman-teman guru kimia terhadap kurikulum 2013 dan implementasinya, meskipun mereka katanya telah mengikuti pelatihan, saya berusaha untuk memberikan sedikit pencerahan apa yang saya ketahui, meskipun saya sadar betul bahwa tingkat pengetahuan saya masihlah dangkal. Mudah2an tulisan-tulisan saya yang terkait dengan kurikulum 2013 dapat memberikan sedikit wawasan dan pengetahuan untuk dijadikan acuan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013.
Sebenarnya tak perlu risau dengan implementasi dari kurikulum 2013, karena dalam rangka pelaksanaan kurikulum 2013, pemerintah melalui Kemendikbud RI telah menerbitkan peraturan baru tentang Implementasi Kurikulum yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81A Tahun 2013. Dalam peraturan ini memuat pedoman-pedoman dalam melaksanakan/mengimplementasikan kurikulum 2013. Pedoman-pedoman tersebut tercantum dalam Lampiran permendikbud-nomor-81a-tahun-2013-tentang-implementasi-kurikulum, yang memuat pedoman-pedoman mulai dari perencanaan sampai pada evaluasi, yaitu:
1. lampiran-i-pedoman-pengembangan-kurikulum-tingkat-satuan-pendidikan;
2. lampiran-ii-pedoman-pengembangan-muatal-lokal;
3. lampiran-iii-pedoman-kegiatan-ekstrakurikuler;
4. lampiran-iv-pedoman-umum-pembelajaran; dan
5. lampiran-v-pedoman-evaluasi-kurikulum.

Silahkan di download dan dipelajari untuk memandu kita dalam melaksanakan kurikulum 2013. Selanjutnya, saya share silabus kimia kelas X, XI, dan XII untuk digunakan sebagai acuan dalam penyusunan RPP. Teknik penyusunan RPP bidang studi kimia telah saya jelaskan pada post sebelumnya (disini).
Ingin download silabus kimia kurikulum 2013…? Silahkan klik link berikut:
1. silabus-kimia-sma-kls-x-12mei-2013-1-tahun
2. silabus-kimia-sma-kls-xi-12mei-2013-1-tahun
3. silabus-kimia-sma-kls-xii-12mei-2013-1-tahun

Selamat melaksanakan kurikulum 2013. Ingat bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 dalam pembelajaran di kelas sebaiknya menggunakan scientific approach (mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menalar, menganalisis, dan menympulkan). Oleh sebab itu, dalam pembelajaran kimia, sebaiknya dilakukan melalui pemanfaatan kegiatan demonstrasi atau eksperimen atau mengunakan media (baik statis maupun dinamis, sepeti gambar visual, animasi, video, grafik, dsb). Untuk itu, nampaknya model pembelajaran SiMaYang cocok dengan pendekatan tersebut. Kesulitan terhadap pelaksanaan kegiatan demonstrasi atau eksperimen dengan alasan keterbatasan alat dan bahan, dapat diatasi dengan memanfaatkan percobaan-percobaan sederhana, sebagai contoh lihat post saya sebelumnya (percobaan sederhana: Pembakaran Wol Besi). Pelaksanaan pembelajaran kimia dengan mengintegrasikan sikap (karakter), keterampilan, dan pengetahuan dapat Anda baca pada post-post saya sebelumnya atau silahkan baca buku: SERBA-SERBI MENGAJARKAN KIMIA DENGAN IMAJINASI, MENYENANGKAN, DAN BERKARAKTER (Pesona Kimia – 1). Dalam buku tersebut juga diberikan beberapa percobaan-percobaan kimia sederhana dan percobaan kimia untuk permainan dan contoh-contoh pembelajaran yang berkarakter untukm pembentukan sikap (KI 1 dan KI 2).

Demikian sekilas uraian saya, mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan, bila ada yang tidak tepat mohon kritikannya sebagai bekal dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan.
GURU ADALAH PEMBINA BANGSA DAN PENJUNJUNG TINGGI MARTABAT NEGARA….!!!

EKSPERIMEN/DEMONSTRASI SEDERHANA: “PEMBAKARAN WOL BESI” SEBAGAI LANGKAH PEMBELAJARAN DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM 2013

BY: SUNYONO

Topik : Reaksi kimia – peningkatan massa pada kombinasi kimia.
Waktu : 5 menit
Level : Pengantar Kimia
Deskripsi: Wol besi dipanaskan melalui alat keseimbangan sederhana berupa ‘jungkat-jungkit,’ sehingga penambahan massa dapat ditunjukkan.

Alat-alat: 1. Pembakar Bunsen
2. Tatakan (alas) tahan panas.
3. Mistar dari kayu (100 cm)
4. Potongan aluminium foil berukuran sekitar 10 cm x 10 cm
5. Beberapa gram plasticin

Bahan Kimia: Untuk satu kali demonstrasi memerlukan sekitar 4 gram wol besi/baja.

Metoda: Lapisi ujung kiri mistar (sekitar 10 cm) dengan aluminium foil untuk melindungi kayu dari api bunsen. Ambil sekitar 4 gram wol baja/besi, biarkan sejenak agar wol baja/besi terkena udara selnjutnya taruh wol baja/besi tersebut pada ujung mistar yang telah dilapisi dengan aluminium foil. Beberapa helai wol besi akan menempel cukup baik. Setimbangkan mistar pada ujung pisau yang sesuai dengan tanda tepat pada titik 50 cm atau tengah-tengah (Lihat gambar). Pada ujung mistar lain (ujung lawannya / kanan) tempatkan beberapa gram plasticin sampai mistar miring ke kanan. Perlu dicatat dan ini penting, tempatkan alas tahan panas di bawah ujung mistar yang berisi wol besi/baja.

GBR Pembakaran Wol Besi
Panaskan wol besi langsung dengan api bunsen. Lihat wol besi akan bersinar (membara) dan beberapa potongan bara dari wol akan jatuh ke alas tahan panas. Panaskan selama sekitar satu menit sampai kesetimbangan mistar kayu akan berubah dimana ujung yang berisi wol besi/baja yang telah terbakar akan turun bawah, sehingga mistar miring ke kiri.

Tip dalam Pembelajaran: Sebelum pemanasan/pembakaran atau pada saat pemanasan/pembakaran, mintalah pada siswa Anda untuk memprediksi apakah berat wol besi akan bertambah, berkurang, atau tetap sama dengan semula.
Percobaan sederhana ini dapat dilakukan untuk membantu Anda dalam mengajarkan topik reaksi kimia atau topik reaksi oksidasi-reduksi melalui pendekatan saintifik (scientific approach), sebagaimana direkomendasikan dalam kurikulum 2013. Pendekatan ini menghendaki adanya lima pengalaman belajar pokok (5M) yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/mengolah informasi, dan mengkomunikasikan.

Selamat mengajar dengan pembelajaran yang manarik dan menyenangkan…!!!
Bravo…!!! Guru Kimia…!!!

Oleh: sunyonoms | September 1, 2013

PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS KARAKTER (Bagian II)

By: SUNYONO

Mencermati Kurikulum 2013 yang menekankan pada pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan, pembelajaran kimia di sekolah hendaknya bisa dilaksanakan secara kreatif dan inovatif dengan mengintegrasikan fenomena-fenomena dalm kehidupan sehari-hari dan juga perkembangan teknologi. Pembelajaran kimia berbasis karakter sangat memungkinkan terjalinnya keterpaduan antara pembelajaran dengan pembentukan sikap dan keterampilan, baik yang hard skills maupun yang soft skills (misalnya keterampilan berkomunikasi, keterampilan lab, atau keterampilan berpikir kritis dan kreatif, dan sebagainya). Dengan demikian, pendekatan scientific (mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan, dan menyimpulkan) yang direkomendasi oleh kurikulum 2013 dalam pembelajaran sangat relevan dengan pembelajaran kimia. Memang sudah seharusnya pembelajaran kimia dilaksanakan melalui scientific approach, bukan hanya sekedar menyampaikan materi secara konvensional (menjelaskan, memberi contoh, latihan, diskusi) yang semuanya hanya dilakukan secara verbal. Padahal, banyak sisi menarik dari pembelajaran kimia yang dapat disajikan di kelas, terutama dalam pembentukan sikap (sikap spiritual dan sosial) dan keterampilan. Berikut saya sajikan sekilas tentang pembelajaran kimia berbasis karakter dan contohnya dalam pembelajaran ikatan kimia. Bahasan dan contoh yang saya sajikan merupakan bagian dari isi buku: “Serba-Serbi Mengajar Kimia dengan Imajinasi, Menyenangkan, dan Berkarakter, ” Penerbit: Aura-publishing. ISBN: 978-602-9326-43-7 (Jilid Lengkap) dan 978-602-9326-44-4 (Jilid 1).

PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS KARAKTER DAN CONTOHNYA

A. Definisi-Definisi
Pada Pasal 3 UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Amanah UU tersebut bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama (Suyanto, 2009).

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian Akbar, A.A. (2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skills) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skills dan sisanya 80 persen oleh soft skills. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Menurut definisi Suyanto (2009), karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Dengan demikian, menurut Suyanto, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Sedangkan menurut Elkind, D. & Freddy S. (2004) bahwa
“character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Pendidikan karakter adalah usaha sengaja untuk membantu orang lain dalam memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Ketika kita berpikir tentang jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak kita, jelas bahwa kita ingin mereka bisa menilai apa yang benar, sangat peduli terhadap apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang mereka yakini benar, bahkan dalam menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam “.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, jika diimplementasikan dalam pembelajaran, pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh pendidik (guru/dosen) yang dapat mempengaruhi karakter peserta didik (siswa/mahasiswa). Dalam hal ini, guru/dsoen mempunyai kewajiban membantu membentuk watak peserta didik melalui keteladanan, mencakup bagaimana perilaku guru/dosen, cara guru/dosen berbicara atau menyampaikan materi, cara guru/dosen memberi respon terhadap pertanyaan/tanggapan/komentar peserta didik, bagaimana guru/dosen bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya, atau dapat dilakukan dengan mengintegrasikan pendidikan karakter dengan materi yang sedang atau akan dibahas. Lalu, bagaiman implementasinya dalam pembelajaran terutama kimia?

Kimia yang merupakan salah satu materi yang sangat terkait dengan kehidupan manusia, dapat berintegrasi dengan pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari, mengingat kimia selalu ada di sekitar kita dan kaya akan pesan moral yang dapat membantu dalam pembentukan karakter siswa/mahasiswa. Pada proses pembelajaran, upaya membangun pengetahuan peserta didik tentang konsep-konsep kimia, akan lebih bermakna jika siswa/mahasiswa mengalami sendiri apa yang sedang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya secara teoritis-verbalistis. Bukti menunjukkan bahwa pembelajaran yang hanya berorientasi target materi, ternyata hanya berhasil dalam pemahaman untuk kompetisi jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak untuk memecahkan masalah dan tersimpan dalam memori jangka panjang (Sagala. 2009). Oleh sebab itu, agar konsep-konsep kimia dapat lebih mudah dipahami dan dikuasai dengan baik oleh peserta didik dibutuhkan kemauan dan keuletan peserta didik dalam memilih cara belajar agar lebih bermakna, tidak hanya sekedar menghafal secara verbal. Ini adalah tugas guru/dosen, tentunya guru/dosen harus selalu berusaha meningkatkan kemauan peserta didik dalam mencari hubungan konseptual kehidupan sehari-hari dengan pengetahuan yang telah dimiliki atau yang sedang dipelajari di dalam kelas. Dengan demikian, dalam upaya mencapai pengetahuan kimia yang mendalam, peserta didik perlu dilatih dalam mengoptimalkan kemampuan berpikir tingkat tingginya termasuk melatih agar memiliki daya kreativitas yang tinggi.

B. Contoh Pembelajaran Kimia Berbasis Karakter dalam Mengajarkan Materi Ikatan Kimia dengan Berandai-andai
Sikap yang diharapkan terbentuk:
– Sikap spiritual: (1) Mengagungkan akan kebesaran Tuhan YME; (2) Mensyukuri dan Menyadari bahwa ketetapan Tuhan YME adalah yang terbaik buat kehidupan manusia.
– Sikap sosial: (1) peduli lingkungan; (2) Menghargai sesama; (3) Jujur dan berani mengatakan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar.
Keterampilan: soft skills (keterampilan berkomunikasi, keterampilan berpikir tingkat tinggi: kritis dan kreatif)
Selain dimuat di buku juga pernah dimuat di Fb. Sun Yono Won pada 22 Oktober 2011 pukul 13:58).

Mari kita simak contoh pembelajaran ikatan kimia berikut:

Pembelajaran berbasis karakter tidak mungkin terwujud jika hanya di tuliskan di RPP dan dibicarakan, karakter sebenarnya bisa diintegrasikan dengan pembelajaran kimia yang sedang berlangsung.
Contohnya kita bisa berandai-andai atau bisa juga dengan menggunakan fakta eksperimen. Misalnya: Ketika kita mengajarkan ikatan hidrogen (dilakukan pada tahap eksplorasi – imajinasi). Cobalah ajukan pertanyaan sederhana setelah siswa mempelajari konsep ikatan hidrogen melalui kegiatan eksplorasi dan imajinasi. “Bagaimana & apa yang akan terjadi seandainya air tidak membentuk ikatan hidrogran, dan air (H2O) mempunyai sifat yang sama dengan saudaranya H2S ?. Tentu saja siswa yang baru belajar ikatan kimia akan menjawab: “tidak tahu pak…, memang apa yang bakal terjadi pak…?”

Guru mengajarkan kimia dengan berbasis karakter (religius & peduli lingkungan) itu menjelaskan: “Anak-anak, menurut konsep ikatan hidrogen yang sudah kalian pelajari, seandainya air (H2O) tidak membentuk ikatan hidrogen, maka pada suhu sekitar minus 100 oC air sudah mendidih, nah jika itu terjadi tidak akan ada kehidupan di dunia ini, seperti organisme sekecil amuba, virus, bakteri, dan lain-lain yang akan mampu bertahan hidup. Begitulah hebatnya Sang Pencipta (Tuhan Yang Maha Esa) yang menciptakan alam ini dengan segenap isinya, tidak ada seorang manusia pun yang ampu membuat H2O lepas dari ikatan hidrogennya. Hebatnya lagi, dengan ikatan hidrogen yang cukup menarik dan sempurna itulah air dapat kita gunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari seperti mencuci, memasak, minum, mandi, dan sebagainya. Maha besar Tuhan dengan segala ciptaannya. Jika ikatan hidrogen dari air terputus dan diikuti oleh lepasnya ikatan kovalen antara H dan O, maka air tidak lagi utuh tetapi berubah menjadi H2 dan O2 (perhatikan percobaan elektrolisis air yang akan kita lakukan pada saat mempelajari elektrokimia nanti)”. Kemudian guru itu melanjutkan: “Oleh sebab itu anak-anak, untuk menjaga ikatan hidrogen yang sempurna itu, kita harus menjaga lingkungan kita, jangan kita cemari air kita, karena air yang tercemar menunjukkan ikatan hidrogennya tidak lagi indah sebagaimana aslinya, namun diantara kisi-kisi molekul H2O di wilayah ikatan hidrogen didomplengi oleh senyawa beracun (pencemar). Ingat bahwa air adalah sumber kehidupan kita. Relakah kalian, jika air kita telah kehilangan jati dirinya (maksudnya dengan ikatan hidrogen yang sempurna sebagaimana Gambar 4)?”

Guru itu melanjutkan: “Anak-anak, memang ikatan hidrogen merupakan sebuah ikatan yang sangat lemah dan memiliki tempo ikat yang sangat singkat. Durasi sebuah ikatan hidrogen adalah sekitar seperseratus milyar detik. Tetapi begitu sebuah ikatan hidrogen putus, ikatan hidrogen yang lainnya langsung terbentuk, begitu seterusnya dalam waktu yang super cepat. Oleh sebab itu, anak-anak, molekul-molekul air saling menempel dengan rapat meskipun juga tetap mempertahankan bentuk cairnya karena molekul-molekulnya disatukan oleh sebuah ikatan yang lemah tadi. Hayo… Ikatan apa anak-anak…?”. Salah seorang siswa bernama (sebut saja) Zirkon menjawab: “ikatan hidrogen pak…!”

“Wah, luar biasa murid bapak ini….”, Respon guru. “Baiklah anak-anak, ada yang perlu ditanyakan tentang ikatan hidrogen dari air…?” Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya. Ferri mengacungkan tangannya: “saya pak… Apakah ikatan hidrogen dari air itu juga yang menyebabkan kalo kita kepanasan, terus membasuh muka dengan air rasanya segar…?.

“Bagus sekali Ferri, pertanyaanmu sangat bagus dan kritis, bapak senang mendengarnya…”, Guru merespon. “Nah, sekarang apakah ada yang ingin memberikan jawaban…?” Setelah sekitar 2 menit, tidak ada yang mencoba memberikan jawaban/tanggapan, guru segera menjawabnya. “Baiklah anak-anak… Memang benar, adanya ikatan hidrogen ini memungkinkan air untuk melawan perubahan suhu. Walaupun suhu udara meningkat secara tiba-tiba, suhu air hanya meningkat perlahan. Demikian juga, jika suhu udara turun secara tiba-tiba, suhu air berkurang secara perlahan. Diperlukan perubahan suhu yang besar agar perubahan suhu air berlangsung cepat. Hal ini memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan, khususnya kehidupan manusia. Sebagai contoh seperti yang disebutkan oleh temanmu Ferri tadi, contoh lainnya adalah banyaknya air dalam tubuh kita. Jika air beradaptasi dengan perubahan suhu yang terjadi secara tiba-tiba di udara dengan laju perubahan yang sama, maka kita akan mengalami panas demam atau membeku secara tiba-tiba. Namun, ini tidak terjadi selama tubuh kita dalam keadaan sehat”. “Semua keistimewaan air dengan ikatan hidrogennya menunjukkan maha agungnya Sang Pencipta (Tuhan YME). Oleh sebab itu, kita wajib bersyukur akan karunia yang diberikan-Nya berupa air dengan segala keistimewaannya secara kimiawi.”

Pertanyaan berikutnya untuk pengayaan: “Nah anak-anak, kalian sudah belajar tentang ikatan hidrogen dari air. Sekarang coba pikirkan dan diskusikan dengan kelompok kalian: “bagaimana dengan air pada fasa gas dan fasa padat, apakah ikatan hidrogennya masih seperti air pada fasa cair sebagaimana Gambar 1. di bawah…?”.

Untuk menuntun siswa berdiskusi, sebaiknya guru membuatkan LKSnya dengan beberapa petunjuk dan uraian materi yang dapat menuntun siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Nah, seperti inilah kira-kira guru dalam mengajarkan ikatan kimia (khususnya ikatan hidrogen dari air), yang didiskusikan adalah masalah-masalah real (kontekstual) dan terkait dengan teori atau konsep yang sedang dipelajari. Contoh ini adalah salah satu cara melatih siswa untuk menggunakan otak kanannya, sehingga siswa memiliki kemampuan “high order thinking (berpikir tingkat tinggi)”.

Gmbr Ikatan Hidrogen
Gambar 1. Ikatan Hidrogen dari Air (H2O) (Effendy, 2011)

Referen:
1. Effendy. 2011. Aplikasi Pembelajaran IPA dalam Pembentukan Karakter Siswa. Makalah Keynote Speaker pada Seminar Nasional Pendidikan Sains di Unesa. 15 Januari 2011. Surabaya.
2. Elkin, D.H. and Freddy, S., 2004. How to Do Character. Pada situs; http://www.goodcharacter.com/article_4.html.
3. Sagala. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Penerbit: Alfabeta. Bandung.
4. Suyanto. 2009. Urgensi Pendidikan Karakter. Direktorat Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional. Situs Resmi Mendikdakmen: http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html.
5. Sunyono, 2012. Serba-Serbi Mengajarkan Kimia dengan Imajinasi, Menyenangkan, dan Berkarakter (Pesona Kimia – 1). Penerbit: Aura-Publishing. Bandar Lampung.

Oleh: sunyonoms | Agustus 20, 2013

ROBERT BOYLE (1627- 91)

A History of Science

1662 – England

‘The volume of a given mass of a gas at constant temperature is inversely proportional to its pressure’

If you double the pressure of a gas, you halve its volume. In equation form: pV = constant; or p1V1 = p2V2 where the subscripts 1 & 2 refer to the values of pressure and volume at any two readings during the experiment.

Born at Lismore Castle, Ireland, Boyle was a son of the first Earl of Cork. After four years at Eton College, Boyle took up studies in Geneva in 1638. In 1654 he moved to Oxford where in 1656, with the philosopher John Locke and the architect Christopher Wren, he formed the experimental Philosophy Club and met ROBERT HOOKE, who became his assistant and with whom he began making the discoveries for which he became famous.

In 1659, with Hooke, Boyle made an efficient vacuum pump, which he used to experiment on respiration and combustion, and showed that air is necessary for life…

Lihat pos aslinya 662 kata lagi

Oleh: sunyonoms | Agustus 20, 2013

RENE DESCARTES (1596-1650)

A History of Science

1637 – France

Cogito ergo sum‘ – The result of a thought experiment resolving to cast doubt on any and all of his beliefs, in order to discover which he was logically justified in holding.

Descartes argued that although all his experience could be the product of deception by an evil daemon, the demon could not deceive him if he did not exist.

His theory that all knowledge could be gathered in a single, complete science and his pursuit of a system of thought by which this could be achieved left him to speculate on the source and the truth of all existing knowledge. He rejected much of what was commonly accepted and only recognised facts that could intuitively be taken as being beyond any doubt.

His work ‘Meditations on First Philosophy’ (1641) is centered on his famous maxim. From this he would pursue all ‘certainties’ via…

Lihat pos aslinya 503 kata lagi

MERUMUSKAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) TEMATIK UNTUK PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

By: Sunyono

Sebagaimana telah saya uraikan pada tulisan saya sebelumnya, bahwa esensi dari Kurikulum 2013 adalah keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Dalam hal ini sikap harus menjadi dasar utama yang menyelimuti keterampilan dan pengetahuan, dalam arti sikap harus dapat memandu keterampilan dan pengetahuan. Bagaimana dalam implementasi pembentukan sikap tersebut? Dalam proses perancangan RPP dan pelaksanaan pembelajaran di kelas, sikap diintegrasikan dalam aktivitas keterampilan dan pengetahuan. Sikap yang dimaksud meliputi sikap spiritual dan sikap sosial.
Dalam Kurikulum 2013, standar kompetensi lulusan (SKL) dirumuskan ke dalam tiga domain di atas, yaitu (1) sikap dan prilaku (meliputi: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, mengamalkan); (2) keterampilan (meliputi: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta); dan (3) pengetahuan (meliputi: mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi).

Berdasarkan SKL tersebut, dirumuskan kompetensi inti (KI) dan dari KI diturunkan ke dalam kompetensi dasar (KD). Kompetensi inti tersebut meliputi, yaitu kompetensi inti 1 (KI 1) tentang sikap spritual, kompetensi inti 2 (KI 2) tentang sikap sosial, kompetensi 3 (KI 3) tentang pengetahuan, dan kompetensi 4 (KI 4) tentang keterampilan. Oleh sebab itu, urutan kompetensi inti dalam Kurikulum 2013 adalah sikap spritual (KI-1), sikap sosial (KI-2), pengetahuan (KI-3) dan keterampilan (KI-4). Meskipun urutan KI tersebut seperti itu, namun dalam perancangan dan pelaksanaan pembelajaran hendaknya dimulai dari KI-3 menuju KI-4. Keterampilan hanya dapat dibangun dengan hasil yang baik melalui pengetahuan (pelukis, penyanyi, olahragawan pasti memiliki pengetahuan yang memadai tentang keterampilan yang ditekuninya). Keterampilan yang tidak melalui proses pengetahuan (KI-3) tidak akan menghasilkan karya yang baik (Materi Sosialisasi Implementasi Kurikulm 2013, slide 8). Dalam proses perolehan pengetahuan dan keterampilan, sikap diintegrasikan sehingga seluruh mata pelajaran diorientasikan memiliki kontribusi terhadap pembentukan sikap. Selanjutnya dari KI 4 berlanjut ke KI 2, kemudian KI 1). Dengan demikian, dalam proses perancangan (menyusun RPP) dan pelaksanaan pembelajaran di kelas, alur yang digunakan adalah diawali dengan KD dari KI-3 menuju KD dari KI 4 dan selanjutnya memberikan dampak terhadap terbentuknya KD pada KI-2 dan KD pada KI-1.

Sebagai bekal teman-teman dalam menyongsong Kurikulum 2013, saya akan mencoba mengimplementasikan Kurikulum 2013 ke dalam bentuk RPP Tematik untuk sekolah dasar (SD). Sebagai contoh saya ambil Tema: “Diriku” dan Sub-tema: “Aku dan Teman Baru” Kelas 1 SD semester 1. Sebelum saya memberikan uraian dan contoh cara menyusun RPP pada tema tersebut, saya sampaikan lebih dahulu kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) pada pembelajaran 2 ((integrasi PPKn, Bahasa Indonesia, dan Matematika). Integrasi KD dari beberapa bidang studi tersebut dapat dilihat pada “Buku Guru” kelas 1 (Tema 1: Diriku, halaman 8). KI dan KD pada buku tersebut diambil dari Salinan Lampiran Permendikbud No. 67 Tahun 2013, halaman 62 – 86 (silahkan download pada link di bawah). Perlu di catat bahwa KI dan KD yang tercantum dalam Buku Guru perlu disesuaikan lagi dengan KI dan KD pada Salinan Lampiran Permendikbud No. 67 Tahun 2013, selanjutnya indikator yang ada pada buku tersebut perlu dikembangkan, karena indikator tersebut hanyalah sekedar contoh bagaimana merumuskan indikator yang diturunkan dari KD.

Pembahasan teknik penyusunan RPP yang saya uraikan berikut ini adalah hasil interpretasi saya terhadap Dokumen Kurikulum 2013 dan perangkatnya, serta hasil dari sosialisasi dan workshop implementasi Kurikulum 2013 yang diselengggarakan selama 2 hari (tanggal 2 – 3 Agustus 2013) di Aula K FKIP Universitas Lampung. Dengan demikian, jika ada kekeliruan atau kekurang tepatan dalam menyajikan pembahasan dan contoh, mohon masukannya via email: sunyono_ms@yahoo.com, atau silahkan dikomentari, dengan rasa senang, saya sangat mengharapkannya.

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Yang Diintegrasikan Dalam Tema: “Diriku,” Sub-Tema: “Aku dan Teman Baru,” Untuk Pembelajaran 2 (Pertemuan ke-2)

1). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
Kompetensi Inti 1 (KI 1): Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
Kompetensi Dasar (KD 1.1):
1.1 Menerima keberagaman karakteristik individu dalam kehidupan beragama sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah.

Kompetensi Inti 2 (KI 2): Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
Kompetensi Dasar (KD):
2.2 Menunjukkan perilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah.

Kompetensi Inti 3 (KI 3): Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, dan membaca), dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, mahluk ciptaan Tuhan, dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
Kompetensi Dasar (KD):
3.2 Mengenal tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di sekolah.

Kompetensi Inti 4 (KI 4): Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan perilaku anak bermain dan berakhlak mulia.
Kompetensi Dasr (KD):
4.2 Melaksanakan tata tertib di rumah dan di sekolah

2). Bahasa Indonesia
Kompetensi Inti 1 (KI 1): Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
Kompetensi Dasar (KD):
1.1 Menerima anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar di tengah keberagaman bahasa daerah.

Kompetensi Inti 2 (KI 2): Memiliki Perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
Kompetensi Dasar (KD):
2.3 Memiliki perilaku santun dan sikap kasih sayang melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah.

Kompetensi Inti 3 (KI 3): Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, dan membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, mahluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
Kompetensi Dasar (KD):
3.4 Mengenal teks cerita diri/personal tentang keberadaan keluarga dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman.

Kompetensi Inti 4 (KI 4): Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan perilaku anak bermain dan berakhlak mulia.
Kompetensi Dasar (KD):
4.4. Menyampaikan teks cerita diri/personal tentang keluarga secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian

3). Matematika
Kompetensi Inti 1 (KI 1): Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
Kompetensi Dasar (KD): 1.1 Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.

Kompetensi Inti 2 (KI 2): Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
Kompetensi Dasar (KD):
2.2 Memiliki rasa ingin tahu dan ketertarikan pada matematika yang terbentuk melalui pengalaman belajar.

Kompetensi Inti 3 (KI 3): Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, dan membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, mahluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
Kompetensi Dasar (KD):
3.2 Mengenal bilangan asli sampai 99 dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain

Kompetensi Inti 4 (KI 4): Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan perilaku anak bermain dan berakhlak mulia.
Kompetensi Dasar (KD):
4.3 Mengemukakan kembali dengan kalimat sendiri dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan terkait dengan aktivitas sehari-hari serta memeriksa kebenarannya.

Contoh Penyusunan RPP Tematik

Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah rambu-rambu penyusunan RPP. Anda tidak perlu berdebat masalah format, namun yang harus diperhatikan adalah aspek-aspek apa saja yang harus ada dalam RPP. Untuk rambu-rambu penyusunan RPP silahkan download pada link di bawah. Berikut saya contohkan langkah-langkah merumuskan RPP tematik untuk Pembelajaran_2 (Pertemuan ke-2) Kelas 1 semester 1 dengan tema: “Diriku” dan subtema: “Aku dan teman baru.”

LANGKAH 1:
Setelah Anda menuliskan: identitas Sekolah, identitas mata pelajaran, kelas/semester, materi pokok, dan alokasi waktu. Kumidian, kita tentukan KD dari KI 3 (pengetahuan), bisa kita ambil dari silabus atau salinan Lampiran Permendikbud No. 67 Tahun 2013. Berdasarkan KD dari KI 3 tersebut, kita coba kaitkan dengan keterampilan apa yang harus dicapai oleh siswa dengan melihat KD dari KI 4 yang sesuai, selanjutnya melalui KD dari KI 3 dan KD dari KI 4 kita kaitkan sikap apa yang dapat dibentuk melalui pembelajaran tersebut. Untuk memudahkan kita lihat dulu KD dari KI 2 (sikap sosial), lalu kita pilih KD dari KI 2 tersebut yang sesuai. Jika pembelajaran tersebut mengandung atau dapat dikaitkan dengan sikap spiritual, maka kita perlu mengambil KD dari KI 1 untuk dapat dicapai oleh siswa (dalam hal ini, jika dari KD KI 3 dan KI 4 tidak dapat dikaitkan dengan sikap spiritual, maka tidak perlu dipaksakan ada KI 1). Selanjutnya, urutkan sesuai dengan urutan KI dalam penulisan di RPP, yaitu dimulai dengan KD dari KI 1 (jika ada), KD dari KI 2, KD dari KI 3, lalu KD dari KI 4. Selanjutnya dari KD-KD tersebut kita turunkan ke dalam indikator2 ketercapaian kompetensi.

Untuk lebih memudahkan dalam merumuskan indikator apakah sesuai dengan KD yang telah ditetapkan atau tidak, sebaiknya setelah kita menetapkan KD kita rumuskan indikatornya. Perhatikan contoh berikut:

Contoh: Salah satu KD (kompetensi dasar) dari KI 3:
PPKn
3.2 Mengenal tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di sekolah.
Indikator:
• Siswa tertib dalam mengikuti pembelajaran dan permainan
• Siswa dapat mematuhi aturan dalam permainan.

Bahasa Indonesia
3.4. Mengenal teks cerita diri/personal tentang keberadaan keluarga dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu pemahaman.
Indikator:
• Mengidentifikasi diri dan keluarga
• Menuliskan nama keluarga, seperti ayah, ibu, dan kakak/adik (jika ada).
• Mengidentifikasi nama teman
• Menyebutkan identitas teman
• Menuliskan nama teman

Matematika
3.2 Mengenal bilangan asli sampai 99 dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitar rumah, sekolah, atau tempat bermain.
Indikator:
• Menghitung banyak benda 1-5 dengan teliti
• Menunjukkan benda yang sesuai dengan bilangan yang ditentukan.
• Menuliskan lambang bilangan 1 – 5.

Berdasarkan KD 3.2 (PPKn), KD 3.4 (Bahasa Indonesia), dan KD 3.2 (Matematika) dan indikatornya di atas, kita dapat mengkaitkan dengan KI 4 (keterampilan) dan KD-nya, lalu kita rumuskan indikatornya.

Kompetensi Dasar (dari KI 4):
PPKn
4.2 Melaksanakan tata tertib di rumah dan di sekolah
Indikator:
• Menjalankan peraturan pada permainan di sekolah dengan baik
• Mematuhi semua aturan yang diberikan dalam permainan

Bahasa Indonesia
4.4. Menyampaikan teks cerita diri/personal tentang keluarga secara mandiri dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi dengan kosakata bahasa daerah untuk membantu penyajian.
Indikator:
• Bercerita tentang diri dan keluarga
• Menuliskan identitas teman yang telah dikenalnya
• Membacakan identitas teman.

Matematika
4.3 Mengemukakan kembali dengan kalimat sendiri dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan terkait dengan aktivitas sehari-hari serta memeriksa kebenarannya.
Indikator:
• Menghitung kembali benda-benda dari 1 – 5.
• Menghitung jumlah benda yang tersisa jika benda tersebut dikurangi (5 benda – 1 benda, dan lain-lain).

Langkah berikutnya adalah kita tetapkan KD dari KI 2 dan KI 1 yang dapat dibentuk melalui pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4 tersebut. Dalam hal ini, sikap yang dapat dibentuk dalam pembelajaran adalah sesuai dengan KD 2.1 (dari KI 2) dan KD 1.1 (dari KI 1).

Kompetensi Dasar (dari KI 2):
PPKn
2.2 Menunjukkan perilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah.
Indikator:
• Mematuhi semua aturan yang diberikan dengan penuh disiplin

Bahasa Indonesia
2.3 Memiliki perilaku santun dan sikap kasih sayang melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah.
Indikator:
• Berbicara dengan bahasa yang santun.
• Memberikan koreksi bila ada teman yang salah dalam menulis (menunjukkan rasa kasih sayang pada teman).

Matematika
2.2 Memiliki rasa ingin tahu dan ketertarikan pada matematika yang terbentuk melalui pengalaman belajar.
Indikator:
• Rasa ingin tahu dengan berusaha bertanya pada teman atau guru tentang lambang bilangan dari 1 sampai 99.
• Ulet dalam belajar, selalu bertanya pada guru atau teman jika mengalami kesulitan.

Kompetensi Dasar (dari KI 1):
PPKn
1.1 Menerima keberagaman karakteristik individu dalam kehidupan beragama sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah.

Bahasa Indonesia
1.1 Menerima anugerah Tuhan Yang Maha Esa berupa bahasa Indonesia yang dikenal sebagai bahasa persatuan dan sarana belajar di tengah keberagaman bahasa daerah.

Matematika
1.1 Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.

Indikator:
• Mengagungkan kebesaran Tuhan YME
• Dengan mematuhi peraturan, siswa dapat terbiasa menjalankan ibadah sesuai agamanya dengan tepat waktu.
• Mensyukuri kebesaran Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dengan berbagai ciri, sehingga tidak satu manusiapun yang sama persis.
• Menyadari bahwa ketentuan yang ditetapkan oleh Tuhan YME adalah yang terbaik bagi kita.

Indikator yang saya rumuskan di atas hanyalah sekedar contoh, indikator-indikator tersebut masih dapat Anda kembangkan lagi, atau Anda dapat saja menyesuaikan dengan kebutuhan siswa Anda dan yang paling penting adalah ketercapaian kompetensi (KD dan KI).

LANGKAH 2:
Setelah kita menetapkan KD dan indikator untuk KI 3 dan KI 4, lalu KD dari KI 2 dan KI 1, kemudian kita tuliskan di RPP dengan mengurutkan dimulai dengan KD dari KI 1 sampai KD dari KI 4. Selanjutnya, rumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan indikator di atas (utamakan dulu indikator dari KD pada KI 3). Berdasarkan indikator dari KD pada KI 3 kita dapat mengintegrasikan indikator dari KI yang lain dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan pembelajaran, hendaknya menggunakan kaidah a (audien), b (behavior), c (condition), dan d (degree), bukan hanya menambahkan kata “siswa dapat” pada indikator. Perhatikan contoh berikut ini:

Tujuan Pembelajaran
PPKn:
1. Melalui suatu permainan, siswa dapat mengikuti pembelajaran dan menjalankan permainan secara tertib.
2. Dengan melakukan permainan, siswa dapat mematuhi peraturan di sekolah dan di rumah dengan baik.
3. Dengan mematuhi peraturan, siswa dapat terbiasa menjalankan ibadah sesuai agamanya dengan tepat waktu.

Bahasa Indonesia:
1. Dengan melakukan permainan, siswa dapat mengidentifikasi diri dan keluarga dengan bahasa yang baik dan santun.
2. Setelah melakukan permainan, secara mandiri siswa dapat menuliskan nama ayah, ibu, dan kakak/adik (jika ada) dengan benar.
3. Dengan melakukan permainan, siswa dapat mengidentifikasi nama teman baru dengan tepat dan dengan bahasa yang santun.
4. Setelah melakukan permainan, siswa dapat menyebutkan nama temannya dengan jujur.
5. Setelah melakukan permainan, secara mandiri siswa dapat menuliskan nama temannya dengan benar.
6. Setelah melakukan permainan, secara mandiri siswa dapat membacakan identitas teman dengan benar dan jujur.
7. Dalam suatu permainan, siswa menunjukkan rasa kasih sayang pada temannya dengan memberikan koreksi terjadap keslahan teman dalam menulis dengan bahasa yang santun.
8. Dengan melakukan permainan, siswa dapat mensyukuri kebesaran Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dengan berbagai ciri, sehingga tidak satu manusiapun yang sama persis.

Matematika:
1. Dengan melakukan permainan, siswa dapat menunjukkan benda-benda yang sesuai dengan lambang bilangan yang telah ditentukan secara tepat.
2. Dengan melakukan permainan, siswa dapat menghitung banyak benda 1 – 5 dengan benar.
3. Setelah melakukan permainan, secara mandiri siswa dapat menuliskan lambang bilangan dengan benar.
4. Setelah melakukan permainan, secara mandiri siswa dapat menghitung banyaknya benda-benda yang tersisa jika benda tersebut dikurangi (5 benda – 1 benda).
5. Dalam suatu permainan, siswa menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi dengan bertanya jika mengalami kesulitan.
6. Melalui suatu permainan, siswa akan selalu mengagungkan akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa yang telah menciptakan beraneka ragam benda-benda.
7. Melalui suatu permainan, siswa dapat menyadari bahwa ketentuan yang ditetapkan oleh Tuhan YME adalah yang terbaik bagi kita.

LANGKAH 3: Menetapkan materi pembelajaran, pendekatan/metode pembelajaran, media, dan sumber pembelajaran.
Dalam menetapkan pendekatan/metode pembelajaran, Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan scientific (meliputi: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran) (Sudarwan, 2013). Komponen-komponen penting dalam mengajar melalui penggunaan pendekatan scientific (McCollum : 2009) adalah
• Menyajikan pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa keingintahuan (Foster a sense of wonder),
• Meningkatkan keterampilan mengamati (Encourage observation),
• Melakukan analisis (Push for analysis) dan
• Berkomunikasi (Require communication)

LANGKAH 4: Menatapkan langkah-langkah pembelajaran (skenario pembelajaran) sesuai dengan pendekatan, strategi, dan metode yang dipilih.
Misalnya dalam RPP yang akan dicontoh berikut ini:
Pendekatan : Scientific
Strategi : Kolaboratif & Kooperatif
Metode : permainan, diskusi, latihan, dan penugasan.

LANGKAH 5 (TERAKHIR): adalah merumuskan penilaian terhadap hasil pembelajaran yang meliputi penilaian sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Hasil RPP yang dirumuskan dapat Anda download pada link di bawah, tapi ingat ini hanyalah contoh yang coba saya rumuskan berdasarkan hasil workshop selama 2 hari di FKIP Unila. Jika kurang baik, bisa Anda sempurnakan, dan jika sudah baik silahkan Anda tiru sebagai acuan.

Silahkan download beberapa dokumen berikut:
1. CONTOH RPP TEMATIK KELAS 1 SD
2. 05. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 67 th 2013 ttg Kurikulum SD
3. ## IMPEMENTASI KURIKULUM 2013.
4. 3.1.1 Rambu-Rambu Penyusunan RPP tematik

Oleh: sunyonoms | Agustus 5, 2013

JOSEPH LOUIS PROUST (1754-1826)

A History of Science

1799 – France

A MIXTURE VERSUS A COMPOUND. (Robert L. Wolke)

‘Chemical compounds contain elements in definite proportions by mass’

Proust’s law is now referred to as the law of constant composition or the law of definite proportions.

Claude Berthollet (1748-1822), then the recognised leader of science in France, rejected Proust’s law. Berthollet believed that the force of chemical affinity, like gravity, must be proportional to the masses of acting substances. He suggested that the composition of chemical compounds could vary widely. Proust showed that Berthollet’s experiments were not done on pure compounds, but rather on mixtures. Thus for the first time a clear distinction was made between mixtures and compounds.

When Dalton proposed his atomic theory, Proust’s law helped to confirm the hypothesis. According to Dalton, atoms would always combine in simple whole number ratios. For example, all water molecules are alike, consisting of two atoms of hydrogen and one atom of oxygen. Therefore, all water has the same composition.

Lihat pos aslinya 64 kata lagi

Esensi dari Kurikulum 2013 adalah keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Dalam hal ini sikap harus menjadi dasar utama yang menyelimuti keterampilan dan pengetahuan, dalam arti sikap harus dapat memandu keterampilan dan pengetahuan. Bagaimana dalam implementasi pembentukan sikap tersebut? Dalam proses perancangan RPP dan pelaksanaan pembelajaran di kelas, sikap diintegrasikan dalam aktivitas keterampilan dan pengetahuan. Sikap yang dimaksud meliputi sikap spiritual dan sikap sosial.
Dalam Kurikulum 2013, standar kompetensi lulusan (SKL) dirumuskan ke dalam tiga domain di atas, yaitu (1) sikap dan prilaku (meliputi: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, mengamalkan); (2) keterampilan (meliputi: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji, menalar, mencipta); dan (3) pengetahuan (meliputi: mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi).

Berdasarkan SKL tersebut, dirumuskan kompetensi inti (KI) dan dari KI diturunkan ke dalam kompetensi dasar (KD). Kompetensi inti tersebut meliputi, yaitu kompetensi inti 1 (KI 1) tentang sikap spritual, kompetensi inti 2 (KI 2) tentang sikap sosial, kompetensi 3 (KI 3) tentang pengetahuan, dan kompetensi 4 (KI 4) tentang keterampilan. Oleh sebab itu, urutan kompetensi inti dalam Kurikulum 2013 adalah sikap spritual (KI-1), sikap sosial (KI-2), pengetahuan (KI-3) dan keterampilan (KI-4). Meskipun urutan KI tersebut seperti itu, namun dalam perancangan dan pelaksanaan pembelajaran hendaknya dimulai dari KI-3 menuju KI-4. Keterampilan hanya dapat dibangun dengan hasil yang baik melalui pengetahuan (pelukis, penyanyi, olahragawan pasti memiliki pengetahuan yang memadai tentang keterampilan yang ditekuninya). Keterampilan yang tidak melalui proses pengetahuan (KI-3) tidak akan menghasilkan karya yang baik (Materi Sosialisasi Implementasi Kurikulm 2013, slide 8). Dalam proses perolehan pengetahuan dan keterampilan, sikap diintegrasikan sehingga seluruh mata pelajaran diorientasikan memiliki kontribusi terhadap pembentukan sikap. Selanjutnya dari KI 4 berlanjut ke KI 2, kemudian KI 1). Dengan demikian, dalam proses perancangan (menyusun RPP) dan pelaksanaan pembelajaran di kelas, alur yang digunakan adalah diawali dengan KD dari KI-3 menuju KD dari KI 4 dan selanjutnya memberikan dampak terhadap terbentuknya KD pada KI-2 dan KD pada KI-1.

Sebagai bekal teman-teman dalam menyongsong Kurikulum 2013, saya akan mencoba mengimplementasikan Kurikulum 2013 ke dalam bentuk RPP untuk mata pelajaran peminatan bidang Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam, khususnya Mata Pelajaran Kimia SMA/MA. Sebagai contoh saya ambil Mata Pelajaran Kimia Kelas X untuk KD 3.11 (artinya KD 11 dari KI 3). Sebelum saya memberikan uraian dan contoh cara menyusun RPP pada bidang studi kimia kelas X, saya sampaikan lebih dahulu kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) kelas X yang saya ambil dari Salinan Lampiran Permendikbud No. 69 Tahun 2013, halaman 164 – 166 (silahkan download pada link di bawah).

Pembahasan teknik penyusunan RPP yang saya uraikan berikut ini adalah hasil interpretasi saya terhadap Dokumen Kurikulum 2013 dan perangkatnya, serta hasil dari sosialisasi dan workshop implementasi Kurikulum 2013 yang diselengggarakan selama 2 hari (tanggal 2 – 3 Agustus 2013) di Aula K FKIP Universitas Lampung. Dengan demikian, jika ada kekeliruan atau kekurang tepatan dalam menyajikan pembahasan dan contoh, mohon masukannya via email: sunyono_ms@yahoo.com, atau silahkan dikomentari, dengan rasa senang, saya sangat mengharapkannya.

Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Kimia Kelas X (Kurikulum 2013)

Kompetensi Inti 1 (KI 1): Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
Kompetensi Dasar (KD 1.1):
1.1 Menyadari adanya keteraturan struktur partikel materi sebagai wujud kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan tentang struktur partikel materi sebagai hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif.

Kompetensi Inti 2 (KI 2): Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
Kompetensi Dasar (KD):
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin, jujur, objektif, terbuka, mampu membedakan fakta dan opini, ulet, teliti, bertanggung jawab, kritis, kreatif, inovatif, demokratis, komunikatif) dalam merancang dan melakukan percobaan serta berdiskusi yang diwujudkan dalam sikap sehari-hari.
2.2 Menunjukkan perilaku kerjasama, santun, toleran, cinta damai dan peduli lingkungan serta hemat dalam memanfaatkan sumber daya alam.
2.3 Menunjukkan perilaku responsif dan pro-aktif serta bijaksana sebagai wujud kemampuan memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Kompetensi Inti 3 (KI 3): Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
Kompetensi Dasar:
3.1 Memahami hakikat ilmu kimia, metode ilmiah dan keselamatan kerja di laboratorium serta peran kimia dalam kehidupan.
3.2 Menganalisis perkembangan model atom.
3.3 Menganalisis struktur atom berdasarkan teori atom Bohr dan teori mekanika kuantum.
3.4 Menganalisis hubungan konfigurasi elektron dan diagram orbital untuk menentukan letak unsur dalam tabel periodik dan sifat-sifat periodik unsur.
3.5 Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta interaksi antar partikel (atom, ion, molekul) materi dan hubungannya dengan sifat fisik materi.
3.6 Menganalisis kepolaran senyawa.
3.7 Menganalisis teori jumlah pasangan elektron di sekitar inti atom (Teori Domain Elektron) untuk menentukan bentuk molekul.
3.8 Menganalisis sifat larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit berdasarkan daya hantar listriknya.
3.9 Menganalisis perkembangan konsep reaksi oksidasi- reduksi serta menentukan bilangan oksidasi atom dalam molekul atau ion.
3.10 Menerapkan aturan IUPAC untuk penamaan senyawa anorganik dan organik sederhana.
3.11 Menerapkan konsep massa molekul relatif, persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia, dan konsep mol untuk menyelesaikan perhitungan kimia.

Kompetensi Inti 4 (KI 4): Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan diri yang dipelajari di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.
Kompetensi Dasar:
4.1 Menyajikan hasil pengamatan tentang hakikat ilmu kimia, metode ilmiah dan keselamatan kerja dalam mempelajari kimia serta peran kimia dalam kehidupan..
4.2 Mengolah dan menganalisis perkembangan model atom.
4.3 Mengolah dan menganalisis struktur atom berdasarkan teori atom Bohr dan teori mekanika kuantum.
4.4 Menyajikan hasil analisis hubungan konfigurasi elektron dan diagram orbital untuk menentukan letak unsur dalam tabel periodik dan sifat-sifat periodik unsur.
4.5 Mengolah dan menganalisis perbandingan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta interaksi antar partikel (atom, ion, molekul)materi dan hubungannya dengan sifat fisik materi.
4.6 Merancang, melakukan, dan menyimpulkan serta menyajikan hasil percobaan kepolaran senyawa.
4.7 Meramalkan bentuk molekul berdasarkan teori jumlah pasangan elektron di sekitar inti atom (Teori Domain Elektron).
4.8 Merancang, melakukan, dan menyimpulkan serta menyajikan hasil percobaan untuk mengetahui sifat larutan elektrolit dan larutan non- elektrolit.
4.9 Merancang, melakukan, dan menyimpulkan serta menyajikan hasil percobaan reaksi oksidasi-reduksi.
4.10 Menalar aturan IUPAC dalam penamaan senyawa anorganik dan organik sederhana.
4.11 Mengolah dan menganalisis data terkait massa molekul relatif, persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia, dan konsep mol untuk menyelesaikan perhitungan kimia.

Contoh Penyusunan RPP Kimia Kelas X
Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah rambu-rambu penyusunan RPP. Anda tidak perlu berdebat masalah format, namun yang harus diperhatikan adalah aspek-aspek apa saja yang harus ada dalam RPP. Untuk rambu-rambu penyusunan RPP silahkan download pada link di bawah.

LANGKAH 1:
Setelah Anda menuliskan: identitas Sekolah, identitas mata pelajaran, kelas/semester, materi pokok, dan alokasi waktu. Kumidian, kita tentukan KD dari KI 3 (pengetahuan), bisa kita ambil dari silabus atau salinan Lampiran Permendikbud No. 69 Tahun 2013. Berdasarkan KD dari KI 3 tersebut, kita coba kaitkan dengan keterampilan apa yang harus dicapai oleh siswa dengan melihat KD dari KI 4 yang sesuai, selanjutnya melalui KD dari KI 3 dan KD dari KI4 kita kaitkan sikap apa yang dapat dibentuk melalui pembelajaran (lihat KI 2 dan KI 1). Untuk memudahkan kita lihat dulu KD dari KI 2 (sikap sosial), lalu kita pilih KD dari KI 2 tersebut yang sesuai. Jika pembelajaran tersebut mengandung atau dapat dikaitkan dengan sikap spiritual, maka kita perlu mengambil KD dari KI 1 untuk dapat dicapai oleh siswa (dalam hal ini, jika dari KD KI 3 dan KI 4 tidak dapat dikaitkan dengan sikap spiritual, maka tidak perlu dipaksakan ada KI 1). Selanjutnya, urutkan sesuai dengan urutan KI dalam penulisan di RPP, yaitu dimulai dengan KD dari KI 1 (jika ada), KD dari KI 2, KD dari KI 3, lalu KD dari KI 4. Selanjutnya dari KD-KD tersebut kita turunkan ke dalam indikator2 ketercapaian kompetensi.

Untuk lebih memudahkan dalam merumuskan indikator apakah sesuai dengan KD yang telah ditetapkan atau tidak, sebaiknya setelah kita menetapkan KD kita rumuskan indikatornya. Perhatikan contoh berikut:

Contoh: Salah satu KD (kompetensi dasar) dari KI 3:
3.11 Menerapkan konsep massa molekul relatif, persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia, dan konsep mol untuk menyelesaikan perhitungan kimia.

Lalu kita rumuskan indikatornya (berikut hanya contoh, bisa Anda kembangkan lagi atau di sesuaikan dengan kebutuhan siswa Anda):
• Menentukan massa atom relatif unsur
• Menentukan massa molekul relatif/massa rumus relatif suatu senyawa
• Menjelaskan arti persamaan reaksi
• Menentukan koefisien reaksi dalam suatu persamaan reaksi
• Menyetarakan persamaan reaksi
• Menginterpretasikan gambaran reaksi kimia pada level submikroskopik
• Menafsirkan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hukum kekekalan massa (Hukum Lavoisier)
• Membuktikan berlakunya hukum perbandingan tetap (Hukum Proust) melalui perhitungan.
• Membuktikan berlakunya hukum kelipatan perbandingan (Hukum Dalton) melalui perhitungan
• Menentukan perbandingan atom-atom penyusun molekul/senyawa.
• Menafsirkan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hukum perbandingan volum (Hukum Boyle-Gay Lussac).
• Menafsirkan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hipotesis Avogadro
• Menghitung volume gas pereaksi atau hasil reaksi berdasarkan hukum Gay Lussac dan Avogadro.
• Menjelaskan satuan mol sebagai satuan jumlah zat.
• Mengkonversi jumlah mol dengan massa, jumlah partikel, dan volume dari suatu zat.
• Menemukan hubungan antara koefisien reaksi, volume gas, dan jumlah partikel gas.
• Menentukan pereaksi pembatas.
• Menghitung jumlah zat yang terlibat dalam suatu reaksi berdasarkan data-data eksperimen.
• Menentukan rumus molekul suatu zat berdasarkan analisis komponen penyusun zat tersebut.
• Menentukan persen hasil reaksi

Jika Anda lihat indikator yang saya rumuskan di atas, barangkali Anda berpikir… Waduh… banyak amat…!!! Anda tidak perlu pusing, karena indikator tersebut untuk satu KD dari KI 3, artinya bisa digunakan untuk beberapa kali pertemuan (tergantung alokasi waktu yang telah Anda tetapkan berdasarkan analisis KI/KD). Bahkan, kemungkinan indikator tersebut masih dapat dikembangkan lagi oleh Anda, atau Anda dapat saja menyesuaikan dengan kebutuhan siswa Anda dan yang paling penting adalah ketercapaian kompetensi (KD dan KI).

Baiklah…., sebagaimana saya sampaikan di atas bahwa saya ingin memberikan contoh menyusun RPP untuk satu kali pertemuan (pertemuan ke-2 dengan materi pokok hukum-hukum dasar kimia). Dalam hal ini KD dari KI 3 dan indikatornya adalah:

Kompetensi Dasar (dari KI 3):
3.11 Menerapkan konsep massa molekul relatif, persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia, dan konsep mol untuk menyelesaikan perhitungan kimia.
Indikator:
• Menafsirkan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hukum kekekalan massa (Hukum Lavoisier)
• Membuktikan berlakunya hukum perbandingan tetap (Hukum Proust) melalui perhitungan.
• Membuktikan berlakunya hukum kelipatan perbandingan (Hukum Dalton) melalui perhitungan
• Menentukan perbandingan atom-atom penyusun molekul/senyawa.
• Menafsirkan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hukum perbandingan volum (Hukum Boyle-Gay Lussac).
• Menemukan hubungan antara tekanan, suhu, dan volume dari suatu gas pada keadaan tertentu.
• Menafsirkan data percobaan untuk membuktikan berlakunya hipotesis Avogadro
• Menghitung volume gas pereaksi atau hasil reaksi berdasarkan hukum Gay Lussac dan Avogadro.

Berdasarkan KD 3.11 dan indikatornya di atas, kita dapat mengkaitkan dengan KI 4 (keterampilan) dan KD 4.11, lalu kita rumuskan indikatornya.

Kompetensi Dasar (dari KI 4):
4.11 Mengolah dan menganalisis data terkait massa molekul relatif, persamaan reaksi, hukum-hukum dasar kimia, dan konsep mol untuk menyelesaikan perhitungan kimia.
Indikator:
• Mengolah data percobaan atau inmformasi, sehingga mampu membuktikan berlakunya hukum-hukum dasar kimia dalam setiap proses perubahan kimia.
• Menganalisis data percobaan atau informasi, sehingga dapat menentukan perbandingan atom penyusun molekul/senyawa dan menentukan volume gas yang terlibat dalam suatu reaksi kimia.

Langkah berikutnya adalah kita tetapkan KD dari KI 2 dan KI 1 yang dapat dibentuk melalui pembelajaran KD dari KI 3 dan KI 4 tersebut. Dalam hal ini, sikap yang dapat dibentuk dalam pembelajaran adalah sesuai dengan KD 2.1 (dari KI 2) dan KD 1.1 (dari KI 1).

Kompetensi Dasar (dari KI 2):
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin, jujur, objektif, terbuka, mampu membedakan fakta dan opini, ulet, teliti, bertanggung jawab, kritis, kreatif, inovatif, demokratis, komunikatif) dalam merancang dan melakukan percobaan serta berdiskusi yang diwujudkan dalam sikap sehari-hari.
Indikator:
• Rasa ingin tahu
• Jujur dalam menggunakan data percobaan untuk membuktikan suatu hukum dasar kimia (menggunakan data apa adanya dan hasilnya sesuai dengan data percobaan).
• Teliti dalam mengolah dan menganalisis data (melakukan pembuktian hukum dasar kimia secara runut dan konsisten terhadap langkah-langkah serta kebenaran hasil).
• Ulet dalam mencari sumber pengetahuan yang mendukung penyelesaian masalah (dapat menyelesaikan masalah secara runut dari awal hingga akhir dengan langkah-langkah yang benar).

Kompetensi Dasar (dari KI 1):
1.1 Menyadari adanya keteraturan struktur partikel materi sebagai wujud kebesaran Tuhan YME dan pengetahuan tentang struktur partikel materi sebagai hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif.
Indikator:
• Mengagungkan kebesaran Tuhan YME
• Menyadari bahwa ketentuan yang ditetapkan oleh Tuhan YME adalah yang terbaik bagi kita.

LANGKAH 2:
Setelah kita menetapkan KD dan indikator untuk KI 3, KI 4, lalu KI 2, dan KI 1, kemudian kita tuliskan di RPP dengan mengurutkan dimulai dari KI 1 sampai KI 4. Selanjutnya, rumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan indikator di atas (utamakan dulu indikator dari KD pada KI 3). Berdasarkan indikator dari KD pada KI 3 kita dapat mengintegrasikan indikator dari KI yang lain dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Perlu diperhatikan dalam merumuskan tujuan pembelajaran, hendaknya menggunakan kaidah a (audien), b (behavior), c (condition), dan d (degree), bukan hanya menambahkan kata “siswa dapat” pada indikator. Perhatikan contoh berikut ini:

Tujuan Pembelajaran
1. Setelah mengamati kegiatan demonstrasi atau percobaan, secara mandiri siswa dapat membuktikan berlakunya hukum kekakalan massa (Lavoisier) secara teliti dan jujur .
2. Diberikan data hasil percobaan, secara mandiri siswa dapat membuktikan berlakunya hukum perbandingan tetap (Proust) dengan teliti dan jujur.
3. Diberikan data hasil percobaan, secara mandiri siswa dapat membuktikan berlakunya hukum kelipatan perbandingan (Dalton) dengan teliti dan jujur.
4. Setelah bereksplorasi tentang hukum Lavoisier, Proust, dan Dalton, secara mandiri siswa dapat menentukan perbandingan atom-atom penyusun molekul atau senyawa dengan benar.
5. Diberikan data hasil percobaan, secara mandiri siswa dapat membuktikan berlakunya hukum perbandingan volume (Boyle-Gay Lussac) dalam suatu proses perubahan kimia dengan teliti dan jujur.
6. Setelah bereksplorasi tentang hukum perbandingan volum, secara mandiri siswa dapat melakukan perhitungan tentang hubungan tekanan, suhu, dan volume gas dengan benar.
7. Diberikan data-data tentang keadaan gas, secara mandiri siswa dapat membuktikan berlakunya hipotesis Avogadro dengan teliti dan jujur.
8. Melalui latihan dan diskusi, siswa dapat menghitung volume gas pereaksi atau hasil reaksi berdasarkan hukum Gay Lussac dan Avogadro dengan benar.
9. Mengembangkan perilaku rasa ingin tahu, teliti, tekun/ulet, dan saling menghargai pendapat melalui kegiatan diskusi kelompok, tanya jawab, dan penugasan individu.
10. Menumbuhkan kesadaran diri akan keagungan Tuhan YME dan kesadaran akan ketetapan Tuhan YME merupakan ketetapan yang terbaik untuk kehidupan umat manusia melalui kegiatan demonstrasi, mengamati tayangan video atau animasi, dan kegiatan latihan kelompok/individu yang imajinatif.

LANGKAH 3: Menetapkan materi pembelajaran, pendekatan/metode pembelajaran, media, dan sumber pembelajaran.
Dalam menetapkan pendekatan/metode pembelajaran, Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan scientific (meliputi: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran) (Sudarwan, 2013). Komponen-komponen penting dalam mengajar melalui penggunaan pendekatan scientific (McCollum : 2009) adalah
• Menyajikan pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa keingintahuan (Foster a sense of wonder),
• Meningkatkan keterampilan mengamati (Encourage observation),
• Melakukan analisis (Push for analysis) dan
• Berkomunikasi (Require communication)

LANGKAH 4: Menetapkan langkah-langkah pembelajaran (skenario pembelajaran) sesuai dengan pendekatan, strategi, dan metode yang dipilih.
Misalnya dalam RPP yang dicontohkan berikut ini:
Pendekatan : scientific
Model : SiMaYang (Berbasis Multipel Representasi)
Strategi : Kolaboratif & Kooperatif
Metode : demonstrasi, diskusi, latihan, dan penugasan.

LANGKAH 5 (TERAKHIR): adalah merumuskan penilaian terhadap hasil pembelajaran yang meliputi penilaian sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Hasil RPP yang dirumuskan dapat Anda download pada link di bawah, tapi ingat ini hanyalah contoh yang coba saya rumuskan berdasarkan hasil workshop selama 2 hari di FKIP Unila. Jika kurang baik, bisa Anda sempurnakan, dan jika sudah baik silahkan dijadikan acuan.

Silahkan download beberapa dokumen berikut:
1. 07. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 69 th 2013 ttg Kurikulum SMA-MA
2. Bahan Sosialisasi ## IMPEMENTASI KURIKULUM 2013.
3. 3.1.1 Rambu-Rambu Penyusunan RPP Rev
4. CONTOH RPP KIMIA KLS X Pertemuan_2 Kurklm 2013
5. 08. Permendikbud Nomor 70 ttg Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK-MAK

6. CONTOH LKS Hukum Dasar Kimia_1

Older Posts »

Kategori