Oleh: sunyonoms | Desember 13, 2012

Menilik Sekilas Draf Kurikulum 2013

BEBERAPA BULAN TERAKHIR TAHUN INI (2012), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia diberbagai media baik media cetak maupun media elektronik menyatakan bahwa telah dilakukan pengembangan kurikulum 2013 dan diuji publik dalam empat tahap. Tahap pertama, penyusunan kurikulum di lingkungan internal Kemdikbud dengan melibatkan sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu dan praktisi pendidikan. Tahap kedua, pemaparan desain Kurikulum 2013 di depan Wakil Presiden selaku Ketua Komite Pendidikan yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 Nopember 2012 serta di depan Komisi X DPR RI pada tanggal 22 Nopember 2012. Tahap ketiga, pelaksanaan uji publik guna mendapatkan tanggapan dari berbagai elemen masyarakat. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui saluran daring (on-line) dengan laman: http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id ini. Tahap keempat, dilakukan penyempurnaan untuk selanjutnya ditetapkan menjadi Kurikulum 2013.

Pada situs resmi kemendikbud tersebut, muncullah beragam pro dan kontra terhadap rancangan kurikulum 2013. Dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menyatakan, komentar-komentar tersebut akan dijadikan bahan pertimbangan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Nuh mengingatkan, kurikulum adalah ranah akademik, bukan ranah politik. “Jadi, semua persiapan, tradisi, dan persoalan dilakukan secara akademik,” kata Nuh di ruang rapat Mendikbud, Gedung Kemendikbud, Senayan, Kamis tanggal 6/12/2012 (sumber: http://blog.uin-malang.ac.id).

Jika disimak dalam rancangan kurikulum 2013 memang menarik dan nampaknya sangat bagus untuk mengasah kreativitas anak, sebagaimna dikemukakan oleh Mierza Miranti, dalam National Educators Conference 2012 di Mulia Business Park, Jakarta, Rabu (12/12/2012) bahwa banyak bagian untuk mengasah kreatif anak di kurikulum 2013 itu (sumber: Kompas.com). Lagi-lagi kurikulum ini tidak saja dapat mengasah secara maksimal kreativitas anak, tetapi juga menuntut skill yang luar biasa pada guru, oleh sebab itu, perlu ada persiapan yang sangat matang terutama dalam mempersiapkan gurunya. Guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran, guru juga harus dilatih dalam mengembangkan matapelajaran dari kompetensi yang harus dicapai oleh siswa, dan juga guru harus dilatih mengintegrasikan berbagai keterampilan (soft skill dan hard skill) dalam setiap pembelajaran.

Dalam rancangan kurikulum 2013, terjadi perubahan mata pelajaran yang semula kompetensi diturunkan dari matapelajaran berubah menjadi matapelajaran dikembangkan dari kompetensi dan pada kompetensi lulusannya diharapkan ada peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Bukan hanya itu saja, orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.

Sejumlah hal yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013 adalah (a) Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output] memerlukan penambahan jam pelajaran; (b) Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran [KIPP dan MELT di AS, Korea Selatan]; (c) Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat, dan (d) Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial

Sementara itu, Kurikulum 2006 memuat sejumlah permasalahan diantaranya: (1) Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (2) Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; (3) Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (4) Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (5) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; (6) Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan (7) Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

Tiga faktor lainnya juga menjadi alasan Pengembangan Kurikulum 2013 adalah, pertama, tantangan masa depan diantaranya meliputi arus globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, dan ekonomi berbasis pengetahuan.
Kedua, kompetensi masa depan yang antaranya meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang efektif, dan kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda.
Ketiga, fenomena sosial yang mengemuka seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial (social unrest). Yang keempat adalah persepsi publik yang menilai pendidikan selama ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.

Berdasarkan ulasan di atas, saya berpendapat bahwa ada beberapa kelebihan dari rancangan kurikulum 2013 dibandingkan kurikulum sebelumnya, diantaranya adalah:
1). Kreativitas anak benar-benar dapat dioptimalkan dalam pembelajaran, sehingga nantinya akan lahir generasi-generasi yang kreatif dan memiliki kemandirian.
2). Melatih anak lebih peka terhadap lingkungan (alam dan sosial), karena belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat.
3). Membiasakan anak berfikir lebih kreatif dan kritis dengan menggunakan daya nalarnya, mengingat dalam proses pembelajarannya yang semula ditekankan pada kegiatan eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, namun dalam rancangan kurikulum 2013 dilengkapi lagi dengan proses mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta.
4). Adanya keterbukaan dan transparansi dalam penilaian oleh guru kepada anak melalui penilaian otentik.

Meskipun demikian, saya berfikir jika kurikulum 2013 ini diterapkan langsung pada tahun 2013 rasanya sulit bisa terpenuhi tuntutan-tuntutan yang ada di dalamnya. Kurikulum KTSP yang selama ini berlaku saja hingga kini sulit dicapai, padahal sudah berjalan lebih dari 5 tahun. Sebenarnya pada KTSP, memungkinkan guru untuk berkreasi dalam mengajar dan mengembangkan potensi anak didik dan pada KTSP guru diberikan keleluasaan untuk mengembangkan kreativitas anak, namun semua itu nihil hasilnya. Apa sebabnya? Diantaranya yang menjadi kendala utama adalah pemahaman yang kurang terhadap kurikulum, konsep, substansi bidang studi, dan integrasi berbagai keterampilan pada mata pelajaran dari para guru. Apalagi ketidak jelasan pemahaman implementasi di kelas, sehingga pembelajaran yang diharapkan lebih kreatif dan inovatif menjadi terhenti alias mandeg.

Dengan demikian, saya mencermati ada beberapa kelemahan yang akan menjadi kendala dalam implementasinya, diantaranya:
1. Kurikulum 2013 menuntut kompetensi dan skill guru yang baik, terutama dalam memadukan berbagai keterampilan (soft skill dan hard skill) dalam setiap pembelajaran, keterampilan dalam memgembangkan matapelajaran berdasarkan kompetensi yang ingin dicapai, melakukan penilaian otentik, dan yang paling utama adalah keterbukaan dari guru.
2. Dengan adanya integrasi mata pelajaran IPA ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, serta matapelajaran IPS ke dalam matapelajaran Bahasa Indonesia dan Kewarganegaraan di SD sudah dapat dipastikan akan terjadi pendangkalan pemahaman materi IPA atau IPS pada anak lulusan SD. Dalam hal ini pasti ada beberapa metari IPA atau IPS di SD yang akan direduksi atau dihilangkan sama sekali.
3. Masih terkait kelemahan No.2. Pengintegrasian tersebut dikhawatirkan menimbulkan beberapa miskonsepsi dari guru dan siswa, mengingat banyak istilah-istilah yang berbeda antara matapalajaran Bahasa Indonesia dengan Matapelajaran IPA, misalnya istilah “gaya”, “tegangan”, “getaran”, dsb. Juga dikhawatirkan akan terjadi pengabaian materi-materi tertentu (terutama yang terkait konsep IPA) oleh guru jika guru tersebut merasa tidak menguasai konsep IPA tentang bahasan yang sedang di bahas dalam matapelajaran Bahasa Indonesia, dan guru lebih menekankan Bahasa Indonesia nya dibandingkan IPA-nya, yang seharusnya lebih proporsional.
4. Prestasi siswa kita di TIMSS dan PISA yang selama ini jauh dibawah negara-negara tetangga kita, diprediksikan akan tidak lebih baik bahkan akan menurun drastis, karena konsep IPA yang seharusnya dipahami oleh siswa tidak lagi menjadi fokus utama dalam pembelajaran.
5. Beberapa sekolah (dalam hal ini SD) yang tidak menerapkan guru kelas, tetapi guru matapelajaran pada kelas IV sampai kelas VI (terutama sekolah-sekolah swasta favorit), tentu saja akan kesulitan menerapkan kurikulum 2013, sebab guru Bahasa Indonesia yang sudah bertahun-tahun mengajarkan satu matapelajaran tesebut, tiba-tiba harus juga menguasai IPA dan IPS. Bagaimana sekolah-sekolah tersebut mengantisipasinya? Jika itu bisa diantisipasi dengan memberikan tambahan keterampilan penguasaan materi IPA dan IPS pada guru tersebut, lalu bagaimana dengan guru IPA dan IPS yang sudah diangkat sebagai guru tetap? Apakah pemerintah akan mewajibkan (dalam tanda petik memaksa) sekolah-sekolah dasar tersebut menerapkan “guru kelas”? Jika ini terjadi, rasanya ironis sekali dengan apa yang selama ini didengungkan adanya otonomi pendidikan di sekolah dan otonomi pembelajaran bagi guru di kelas.
5. Anggaran yang cukup besar dalam mempersiapkan guru akan menjadi sia-sia jika tidak dirancang secara matang. Siapa yang akan melatih, bagaimana dengan kompetensi instruktur yang akan memberikan pelatihan, lembaga mana yang akan ditugasi untuk mengelola pelatihan guru, dan banyak lagi. Mengingat, diklat-diklat yang selama ini dilakukan nampaknya tidak efektif mengahasilkan guru yang profesional, keratif, dan inovatif. Transformasi dari paradigma teacher center ke student center selama ini tidak berjalan sesuai harapan.
6. Pemilihan calon instruktur dan instruktur, harus benar-benar dilakukan secara transparan dan terseleksi melalui seleksi kompetensi (tidak asal comot karena pertemanan). Pemilihan instruktur untuk melatih guru seperti ini memerlukan waktu yang tidak singkat, mengingat harus ada seleksi awal dan seleksi pada saat TOT.
Lalu, bagaimana dengan calon instruktur yang setelah di TOT tidak memenuhi persyaratan menjadi instruktur? Padahal untuk segera diimplelemtasikan di lapangan memerlukan instruktur yang tidak sedikit. Jadi, sekali lagi waktu untuk mempersiapkan guru yang akan mengimplementasikan kurikulum 2013 tidaklah singkat, sehingga rasanya kok tidak mungkin bisa diberlakukan secara serempak pada tahun 2013 bahkan pada tahun 2016. Bagaimana dengan sekolah yang ada di daerah atau ada di pedalaman, yang notabene gurunya saja sangat terbatas jumlahnya.

Kendala lainnya adanya politisasi di dunia pendidikan, ini sudah bukan rahasia lagi. sarana dan prasarana pembelajaran di banyak sekolah yang masih jauh dari layak (terutama pada sekolah-sekolah yang ada di daerah), kompetensi guru, dan instansi yang berkaitan langsung dengan pendidikan sekolah yang masih mengesampingkan budaya keterbukaan dan profesionalisme. Jika kondisi ini kurang mendapatkan perhatian dan segera ditangani, maka nasib kurikulum 2013 akan sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, hanya bagus dalam tataran konsep, namun nihil dalam implementasinya.

Dengan demikian, sebelum digulirkan ke lapangan hendaknya ada komitmen pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah dalam upaya meningkatkan kompetensi dan skill guru secara menyeluruh sehingga benar-benar dapat mengimplementasikan kurikulum 2013 ini setidak-tidaknya dapat diberlakukan secara serempak pada semua sekolah 3 tahun kemudian (2016) setelah dicanangkan.

Terhadap draf kurikulum 2013 yang telah saya baca dan dengan melihat kelebihan dan kelemahan yang ada, saya setuju dengan usulan-usulan yang dicantumkan pada halaman 40 (untuk SD), halaman 46 (untuk SMP), dan halaman 53 (untuk SMA) untuk point 2 dan 3, tetapi pada point 1 tentang penjurusan sepertinya untuk saat ini masih diperlukan untuk menciptakan terjadinya kompetisi di kelas X SMA. Budaya kompetisi ini sangat diperlukan untuk menghasilkan generasi yang bersifat sportif.

Sumber:
1. Situs resmi Kemendikbud
2. Kompas.com

Draft Kurikulum 2013 dapat di download disini: BahanUjiPublik_Kurikulum2013


Responses

  1. secara tidak langsung pemerintah mendiknas seakan memaksakan kompetensi guru yang juga memiliki bidang mapel yang berbeda-beda. ini hanya akan menjadikan bahwa pendidikan di negeri ini tidak konsisten malah membingungkan

  2. terima kasih pak… sangat membantu
    insyaAllah dapat saya jadikan referensi

  3. […] terhadap keberlangsungan dari kurikulum 2013. Apa yang saya khawatirkan semula (pada post Menilik Sekilas Draf Kurikulum 2013), bahwa bila para instruktur yang mengemban amanah untuk mensosialisasikan tidak dipilih dengan […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: