Oleh: sunyonoms | September 1, 2013

PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS KARAKTER (Bagian II)

By: SUNYONO

Mencermati Kurikulum 2013 yang menekankan pada pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan, pembelajaran kimia di sekolah hendaknya bisa dilaksanakan secara kreatif dan inovatif dengan mengintegrasikan fenomena-fenomena dalm kehidupan sehari-hari dan juga perkembangan teknologi. Pembelajaran kimia berbasis karakter sangat memungkinkan terjalinnya keterpaduan antara pembelajaran dengan pembentukan sikap dan keterampilan, baik yang hard skills maupun yang soft skills (misalnya keterampilan berkomunikasi, keterampilan lab, atau keterampilan berpikir kritis dan kreatif, dan sebagainya). Dengan demikian, pendekatan scientific (mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengkomunikasikan, dan menyimpulkan) yang direkomendasi oleh kurikulum 2013 dalam pembelajaran sangat relevan dengan pembelajaran kimia. Memang sudah seharusnya pembelajaran kimia dilaksanakan melalui scientific approach, bukan hanya sekedar menyampaikan materi secara konvensional (menjelaskan, memberi contoh, latihan, diskusi) yang semuanya hanya dilakukan secara verbal. Padahal, banyak sisi menarik dari pembelajaran kimia yang dapat disajikan di kelas, terutama dalam pembentukan sikap (sikap spiritual dan sosial) dan keterampilan. Berikut saya sajikan sekilas tentang pembelajaran kimia berbasis karakter dan contohnya dalam pembelajaran ikatan kimia. Bahasan dan contoh yang saya sajikan merupakan bagian dari isi buku: “Serba-Serbi Mengajar Kimia dengan Imajinasi, Menyenangkan, dan Berkarakter, ” Penerbit: Aura-publishing. ISBN: 978-602-9326-43-7 (Jilid Lengkap) dan 978-602-9326-44-4 (Jilid 1).

PEMBELAJARAN KIMIA BERBASIS KARAKTER DAN CONTOHNYA

A. Definisi-Definisi
Pada Pasal 3 UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Amanah UU tersebut bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama (Suyanto, 2009).

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian Akbar, A.A. (2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skills) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skills dan sisanya 80 persen oleh soft skills. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Menurut definisi Suyanto (2009), karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Dengan demikian, menurut Suyanto, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Sedangkan menurut Elkind, D. & Freddy S. (2004) bahwa
“character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Pendidikan karakter adalah usaha sengaja untuk membantu orang lain dalam memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Ketika kita berpikir tentang jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak kita, jelas bahwa kita ingin mereka bisa menilai apa yang benar, sangat peduli terhadap apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang mereka yakini benar, bahkan dalam menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam “.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, jika diimplementasikan dalam pembelajaran, pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh pendidik (guru/dosen) yang dapat mempengaruhi karakter peserta didik (siswa/mahasiswa). Dalam hal ini, guru/dsoen mempunyai kewajiban membantu membentuk watak peserta didik melalui keteladanan, mencakup bagaimana perilaku guru/dosen, cara guru/dosen berbicara atau menyampaikan materi, cara guru/dosen memberi respon terhadap pertanyaan/tanggapan/komentar peserta didik, bagaimana guru/dosen bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya, atau dapat dilakukan dengan mengintegrasikan pendidikan karakter dengan materi yang sedang atau akan dibahas. Lalu, bagaiman implementasinya dalam pembelajaran terutama kimia?

Kimia yang merupakan salah satu materi yang sangat terkait dengan kehidupan manusia, dapat berintegrasi dengan pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari, mengingat kimia selalu ada di sekitar kita dan kaya akan pesan moral yang dapat membantu dalam pembentukan karakter siswa/mahasiswa. Pada proses pembelajaran, upaya membangun pengetahuan peserta didik tentang konsep-konsep kimia, akan lebih bermakna jika siswa/mahasiswa mengalami sendiri apa yang sedang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya secara teoritis-verbalistis. Bukti menunjukkan bahwa pembelajaran yang hanya berorientasi target materi, ternyata hanya berhasil dalam pemahaman untuk kompetisi jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak untuk memecahkan masalah dan tersimpan dalam memori jangka panjang (Sagala. 2009). Oleh sebab itu, agar konsep-konsep kimia dapat lebih mudah dipahami dan dikuasai dengan baik oleh peserta didik dibutuhkan kemauan dan keuletan peserta didik dalam memilih cara belajar agar lebih bermakna, tidak hanya sekedar menghafal secara verbal. Ini adalah tugas guru/dosen, tentunya guru/dosen harus selalu berusaha meningkatkan kemauan peserta didik dalam mencari hubungan konseptual kehidupan sehari-hari dengan pengetahuan yang telah dimiliki atau yang sedang dipelajari di dalam kelas. Dengan demikian, dalam upaya mencapai pengetahuan kimia yang mendalam, peserta didik perlu dilatih dalam mengoptimalkan kemampuan berpikir tingkat tingginya termasuk melatih agar memiliki daya kreativitas yang tinggi.

B. Contoh Pembelajaran Kimia Berbasis Karakter dalam Mengajarkan Materi Ikatan Kimia dengan Berandai-andai
Sikap yang diharapkan terbentuk:
– Sikap spiritual: (1) Mengagungkan akan kebesaran Tuhan YME; (2) Mensyukuri dan Menyadari bahwa ketetapan Tuhan YME adalah yang terbaik buat kehidupan manusia.
– Sikap sosial: (1) peduli lingkungan; (2) Menghargai sesama; (3) Jujur dan berani mengatakan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar.
Keterampilan: soft skills (keterampilan berkomunikasi, keterampilan berpikir tingkat tinggi: kritis dan kreatif)
Selain dimuat di buku juga pernah dimuat di Fb. Sun Yono Won pada 22 Oktober 2011 pukul 13:58).

Mari kita simak contoh pembelajaran ikatan kimia berikut:

Pembelajaran berbasis karakter tidak mungkin terwujud jika hanya di tuliskan di RPP dan dibicarakan, karakter sebenarnya bisa diintegrasikan dengan pembelajaran kimia yang sedang berlangsung.
Contohnya kita bisa berandai-andai atau bisa juga dengan menggunakan fakta eksperimen. Misalnya: Ketika kita mengajarkan ikatan hidrogen (dilakukan pada tahap eksplorasi – imajinasi). Cobalah ajukan pertanyaan sederhana setelah siswa mempelajari konsep ikatan hidrogen melalui kegiatan eksplorasi dan imajinasi. “Bagaimana & apa yang akan terjadi seandainya air tidak membentuk ikatan hidrogran, dan air (H2O) mempunyai sifat yang sama dengan saudaranya H2S ?. Tentu saja siswa yang baru belajar ikatan kimia akan menjawab: “tidak tahu pak…, memang apa yang bakal terjadi pak…?”

Guru mengajarkan kimia dengan berbasis karakter (religius & peduli lingkungan) itu menjelaskan: “Anak-anak, menurut konsep ikatan hidrogen yang sudah kalian pelajari, seandainya air (H2O) tidak membentuk ikatan hidrogen, maka pada suhu sekitar minus 100 oC air sudah mendidih, nah jika itu terjadi tidak akan ada kehidupan di dunia ini, seperti organisme sekecil amuba, virus, bakteri, dan lain-lain yang akan mampu bertahan hidup. Begitulah hebatnya Sang Pencipta (Tuhan Yang Maha Esa) yang menciptakan alam ini dengan segenap isinya, tidak ada seorang manusia pun yang ampu membuat H2O lepas dari ikatan hidrogennya. Hebatnya lagi, dengan ikatan hidrogen yang cukup menarik dan sempurna itulah air dapat kita gunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari seperti mencuci, memasak, minum, mandi, dan sebagainya. Maha besar Tuhan dengan segala ciptaannya. Jika ikatan hidrogen dari air terputus dan diikuti oleh lepasnya ikatan kovalen antara H dan O, maka air tidak lagi utuh tetapi berubah menjadi H2 dan O2 (perhatikan percobaan elektrolisis air yang akan kita lakukan pada saat mempelajari elektrokimia nanti)”. Kemudian guru itu melanjutkan: “Oleh sebab itu anak-anak, untuk menjaga ikatan hidrogen yang sempurna itu, kita harus menjaga lingkungan kita, jangan kita cemari air kita, karena air yang tercemar menunjukkan ikatan hidrogennya tidak lagi indah sebagaimana aslinya, namun diantara kisi-kisi molekul H2O di wilayah ikatan hidrogen didomplengi oleh senyawa beracun (pencemar). Ingat bahwa air adalah sumber kehidupan kita. Relakah kalian, jika air kita telah kehilangan jati dirinya (maksudnya dengan ikatan hidrogen yang sempurna sebagaimana Gambar 4)?”

Guru itu melanjutkan: “Anak-anak, memang ikatan hidrogen merupakan sebuah ikatan yang sangat lemah dan memiliki tempo ikat yang sangat singkat. Durasi sebuah ikatan hidrogen adalah sekitar seperseratus milyar detik. Tetapi begitu sebuah ikatan hidrogen putus, ikatan hidrogen yang lainnya langsung terbentuk, begitu seterusnya dalam waktu yang super cepat. Oleh sebab itu, anak-anak, molekul-molekul air saling menempel dengan rapat meskipun juga tetap mempertahankan bentuk cairnya karena molekul-molekulnya disatukan oleh sebuah ikatan yang lemah tadi. Hayo… Ikatan apa anak-anak…?”. Salah seorang siswa bernama (sebut saja) Zirkon menjawab: “ikatan hidrogen pak…!”

“Wah, luar biasa murid bapak ini….”, Respon guru. “Baiklah anak-anak, ada yang perlu ditanyakan tentang ikatan hidrogen dari air…?” Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya. Ferri mengacungkan tangannya: “saya pak… Apakah ikatan hidrogen dari air itu juga yang menyebabkan kalo kita kepanasan, terus membasuh muka dengan air rasanya segar…?.

“Bagus sekali Ferri, pertanyaanmu sangat bagus dan kritis, bapak senang mendengarnya…”, Guru merespon. “Nah, sekarang apakah ada yang ingin memberikan jawaban…?” Setelah sekitar 2 menit, tidak ada yang mencoba memberikan jawaban/tanggapan, guru segera menjawabnya. “Baiklah anak-anak… Memang benar, adanya ikatan hidrogen ini memungkinkan air untuk melawan perubahan suhu. Walaupun suhu udara meningkat secara tiba-tiba, suhu air hanya meningkat perlahan. Demikian juga, jika suhu udara turun secara tiba-tiba, suhu air berkurang secara perlahan. Diperlukan perubahan suhu yang besar agar perubahan suhu air berlangsung cepat. Hal ini memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan, khususnya kehidupan manusia. Sebagai contoh seperti yang disebutkan oleh temanmu Ferri tadi, contoh lainnya adalah banyaknya air dalam tubuh kita. Jika air beradaptasi dengan perubahan suhu yang terjadi secara tiba-tiba di udara dengan laju perubahan yang sama, maka kita akan mengalami panas demam atau membeku secara tiba-tiba. Namun, ini tidak terjadi selama tubuh kita dalam keadaan sehat”. “Semua keistimewaan air dengan ikatan hidrogennya menunjukkan maha agungnya Sang Pencipta (Tuhan YME). Oleh sebab itu, kita wajib bersyukur akan karunia yang diberikan-Nya berupa air dengan segala keistimewaannya secara kimiawi.”

Pertanyaan berikutnya untuk pengayaan: “Nah anak-anak, kalian sudah belajar tentang ikatan hidrogen dari air. Sekarang coba pikirkan dan diskusikan dengan kelompok kalian: “bagaimana dengan air pada fasa gas dan fasa padat, apakah ikatan hidrogennya masih seperti air pada fasa cair sebagaimana Gambar 1. di bawah…?”.

Untuk menuntun siswa berdiskusi, sebaiknya guru membuatkan LKSnya dengan beberapa petunjuk dan uraian materi yang dapat menuntun siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Nah, seperti inilah kira-kira guru dalam mengajarkan ikatan kimia (khususnya ikatan hidrogen dari air), yang didiskusikan adalah masalah-masalah real (kontekstual) dan terkait dengan teori atau konsep yang sedang dipelajari. Contoh ini adalah salah satu cara melatih siswa untuk menggunakan otak kanannya, sehingga siswa memiliki kemampuan “high order thinking (berpikir tingkat tinggi)”.

Gmbr Ikatan Hidrogen
Gambar 1. Ikatan Hidrogen dari Air (H2O) (Effendy, 2011)

Referen:
1. Effendy. 2011. Aplikasi Pembelajaran IPA dalam Pembentukan Karakter Siswa. Makalah Keynote Speaker pada Seminar Nasional Pendidikan Sains di Unesa. 15 Januari 2011. Surabaya.
2. Elkin, D.H. and Freddy, S., 2004. How to Do Character. Pada situs; http://www.goodcharacter.com/article_4.html.
3. Sagala. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Penerbit: Alfabeta. Bandung.
4. Suyanto. 2009. Urgensi Pendidikan Karakter. Direktorat Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional. Situs Resmi Mendikdakmen: http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html.
5. Sunyono, 2012. Serba-Serbi Mengajarkan Kimia dengan Imajinasi, Menyenangkan, dan Berkarakter (Pesona Kimia – 1). Penerbit: Aura-Publishing. Bandar Lampung.


Responses

  1. subhanallah…., semoga semua pendidik bisa memahami arti pendidikan karakter ya pak… bagus sekali ulasannya pak… semoga bisa melahirkan tulisan lainnya yang lebih bagus. sukses pak nyono

    • Amin…. Terimakasih sdri Nurhasanah telah berkunjung… semoga tulisan saya bermanfaat ya…

  2. tq ulasannya pak bagus sekali..

  3. Salam…
    Saya terkesan dengan tulisan-tulisan Bapak mengenai pembelajaran Kimia. Mohon Informasi, kira-kira dimana saya bisa mendapatkan buku “Serba-Serbi Mengajar Kimia dengan Imajinasi, Menyenangkan, dan Berkarakter, ” yang Bapak tulis?
    Terima kasih
    Wassalam…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: