Oleh: sunyonoms | Januari 12, 2014

Kedudukan Model Pembelajaran SiMaYang terhadap Kurikulum 2013

Esensi dari kurikulum 2013 adalah pembentukan sikap (KI 1 dan KI 2) melalui pembelajaran KI 3 (pengetahuan) dan KI 4 (keterampilan). Dengan demikian, orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus proses pembelajaran yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran tidak langsung. Pada proses pembelajaran langsung, peserta didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran tersebut peserta didik melakukan kegiatan belajar mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau menganalisis, dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya atau yang dikenal dengan 5M pengalaman belajar. Pembelajaran tidak langsung adalah proses pendidikan yang terjadi selama proses pembelajaran langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap (Sumber: Lampiran Pemendikbud No. 81a Tahun 2013).

Bila mengacu pada dokumen kurikulum 2013 tersebut, nampak bahwa model pembelajaran SiMaYang dapat membantu guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran untuk mengintegrasikan berbagai keterampilan (soft skill dan hard skill). Pembelajaran dengan mengintegrasikan soft skill dan hard skill akan mampu meningkatkan keseimbangan antara kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Model pembelajaran SiMaYang merupakan model pembelajaran yang menekankan pada interkoneksi tiga level fenomena kimia, yaitu level submikro yang bersifat abstrak, level simbolik, dan level makro yang bersifat nyata dan kasat mata. Pembelajaran kimia dengan melibatkan fenomena makro, submikro, dan simbolik akan berdampak pada pembentukan sikap peserta didik, baik sikap spiritual (KI 1) maupun sikap sosial (KI 2). Dengan melihat, mencoba sendiri, dan melibatkan diri dalam melakukan kegiatan imajinasi untuk mnginterpretasikan dan mentransformasikan fenomena-fenomena kimia tersebut, peserta didik diharapkan mampu meningkatkan dan mengembangkan pengetahuannya, keterampilannya, dan sikapnya (spiritual dan sosial).

Berdasarkan uraian di atas, nampak ada kesesuaian antara model pembelajaran SiMayang dengan kurikulum 2013. Pada kurikulum 2013 proses pembelajaran yang dianjurkan adalah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik yang terdiri atas lima pengalaman belajar pokok (5M) yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/mengolah informasi, dan mengkomunikasikan. Sejak fase orientasi sampai fase evaluasi selalu terjadi kegiatan menanya (tanya-jawab). Pada fase eksplorasi-imajinasi ada kegiatan mengamati (mengamati demonstrasi, mengamati animasi, mengamati gambar visual, dan sebagainya), dan juga ada kegiatan mengumpulkan informasi pada penelusuran pengetahuan melalui webpage/weblog dan mengolah informasi melalui kegiatan menalar dalam berlatih melakukan imajinasi representasi terhadap fenomena sub-mikroskopis dalam kelompok diskusi. Kegiatan mengolah informasi dan mengkomunikasikan juga muncul pada fase internaslisasi, yaitu pada saat siswa/mahasiswa melakukan imajinasi dalam kegiatan individu dan pada fase ini juga siswa/mahasiswa melakukan kegiatan presentasi (menyajikan dan saling mengomentari). Pada fase terakhir (evaluasi), juga muncul kegiatan mengkomunikasikan, yaitu pada kegiatan reviu hasil kerja mahasiswa yang dapat berupa kegiatan menyimpulkan dan pemberian tugas agar mahasiswa berlatih sendiri di rumah.

Berdasarkan uraian di atas, nampaknya pengembangan model pembelajaran SiMaYang yang dilakukan sejak tahun 2010 dan diujicoba selama 2 tahun (2011 dan 2012) telah mengantisipasi perubahan kurikulum. Pembentukan sikap akan terwujud ketika peserta didik/pembelajar (siswa/mahasiswa) memahami ketiga fenomena kimia yan dihubungkan dengan fakta dalam kehidupan sehari-hari dan juga dengan keyakinan akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (sikap spriritual). Adanya kegiatan diskusi dan menyelesaiakan masalah secara kelompok diharapkan peserta didik memiliki sikap yang baik dalam bekerjasama dengan orang lain (sikap sosial). Adanya kegiatan saling mengomentari hasil kerja teman dan interaksi antara guru/dosen dengan siswa/mahasiswa, diharapkan mampu membentuk sikap saling menghormati sesama (sikap sosial). Kegiatan individu dan presentasi diharapkan peserta didik memiliki sikap jujur dan bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap orang lain (sikap sosial). Kegiatan mengamati, mengolah, dan menganalisis informasi tentang berbagai fenomena kimia (baik dari demonstrasi maupun dari media visual) diharapkan peserta didik memiliki sikap teliti (sikap sosial). Dengan demikian, melalui pembelajaran SiMaYang, sikap spiritual (KI 1) dan sikap sosial (KI 2), serta keterampilan (KI 4) baik soft skill maupun hard skill dapat dibentuk atau ditingkatkan.

Sesungguhnya pembelajaran kimia adalah pembelajaran berkarakter, jika kita lakukan secara kreatif dan inovatif. Banyak hal dalam pembahasan kimia yang terkait dengan kehidupan baik secara pribadi maupun sosial dan lingkungan. Memahami akan pentingnya ilmu kimia dalam kehidupan kita, akan mengarahkan kita pada hidup sehat dan diridhoi oleh Allah S.W.T. Pemahaman kimia yang sepenggal-sepenggal akan berdampak buruk dan akan menimbulkan penyelewengan terhadap makna filosofi dari ilmu kimia itu sendiri.
Contoh sederhana adalah penggunaan bahan berbahaya pada makanan (misalnya boraks, formalin, pemutih, zat warna tekstil, dsb) untuk menambah kualitas, rasa, dan agar tidak mudah membusuk dari produk makanan yang dibuat. Para pedagang dan pengguna bahan2 tersebut bukanlah orang yg tidak berpendidikan. Rata-rata mereka adalah pernah duduk dibangku sekolah menengah (SMP, SMA/SMK teknologi), artinya mereka telah mengenal kimia dan juga mengenal efek baik atau buruknya dari bahan kimia bila dicampur pada makanan yang kita makan. Belum lagi kasus penyiraman air keras (dari HCl) kepada penumpang bis yang dilakukan oleh oknum pelajar SLTA beberapa waktu lalu.
Jika kita renungkan dan kita instropeksi diri, maka mungkin ini adalah kegagalan kita dalam membelajarkan kimia pada anak, selama ini kita hanya berkutak pada “pembelajaran berbasis pada pengetahuan (learning based on the knowledge)” saja, belum mengarahkan pembelajaran kimia kearah “pembelajaran berbasis pada pengetahuan untuk mencapai perilaku yang baik (learning based on the knowledge to achieve a good behavior).”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: