Penelitian Tindakan Kelas

By; SUNYONO

Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya membentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia. Kehadiran guru hingga saat ini bahkan sampai akhir zaman nanti tidak akan pernah dapat digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Oleh sebab itu, dalam melaksanakan tugas-tugas guru yang cukup komplek dan unik, diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang maksimal untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara kontinyu guru dapat meningkatkan kompetensinya. Untuk menguji kompetensi tersebut, pemerintah menerapkan sertifikasi bagi guru melalui portofolio dan diklat.
Dengan adanya sertifikasi tersebut diharapkan guru mampu merubah kinerjanya ke arah yang lebih profesional. Apakah Anda sebagai guru tidak profesional atau belum profesional?. Menurut Dedi Supriyadi (1999) bahwa profesionalisme guru di Indonesia baru dalam taraf sedang tumbuh (emerging proffession) yang tingkat kematangannya belum sampai pada apa yang telah dicapai oleh profesi-profesi lain (misalnya dokter), sehingga guru sering dikatakan sebagai profesi yang setengah-setengah atau semi-profesional. Usman (2002) menyatakan bahwa guru yang profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga Ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal.

Mengapa PTK harus dilakukan oleh guru…? Menurut Hopkins (1993) berkaitan dengan isu-isu seputar profesionalisme, praktik di kelas, kontrol sosial terhadap guru, serta kemanfaatan penelitian pendidikan. Dari segi profesionalisme, penelitian kelas yang dilakukan oleh guru dipandang sebagai suatu unjuk kerja seorang guru yang profesional karena studi sistematik yang dilakukan terhadap diri sendiri dianggap sebagai tanda (hallmark) dari pekerjaan guru yang profesional. Dalam hal ini ada dua argumen yang dikemukakan oleh Hopkins, yaitu: Pertama: Guru yang baik perlu mempunyai otonomi dalam melakukan penilaian profesional, sehingga ia tidak perlu diberitahu apa yang harus dia kerjakan. Namun, tidak berarti ia tidak dapat menerima masukan atau saran dari luar. Saran atau masukan tersebut tetap penting, tetapi gurulah yang menentukan atau yang paling tahu apakah masukan atau saran tersebut sesuai dengan kondisi kelas yang dihadapinya. Kedua: Ketidaktepatan paradigma penelitian biasa (formal) dalam membantu guru memperbaiki kinerjanya dalam mengajar. Salah satu aspek yang tidak menguntungkan dari penelitian biasa (formal) adalah temuan-temuan yang sangat sulit diterapkan dalam praktik pembelajaran di kelas. Athur Bolster (dalam Hopkins) menyatakan bahwa pengaruh penelitian tentang mengajar terhadap praktik pembelajaran sangat kecil karena asumsi atau titik tolak tentang mengajar yang digunakan para peneliti berbeda dengan asumsi atau titik tolak yang digunakan oleh para guru. Akibatnya, kesimpulan resmi yang dihasilkan dari berbagai penelitian tersebut kurang relevan dengan kebutuhan para guru yang mengajar di kelas.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akhir-akhir ini telah menjadi trend untuk dilakukan oleh guru sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan kualitas pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu jenis penelitian yang dilakukan oleh guru untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelasnya. Menurut Suharsimi (2002) bahwa PTK merupakan paparan gabungan definisi dari tiga kata ”penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat bagi peneliti atau orang-orang yang berkepentingan dalam rangka peningkatan kualitas diberbagai bidang. Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang dalam pelaksanaannya berbentuk rangkaian periode / siklus kegiatan. Sedangkan kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama dan tempat yang sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru yang sama. Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan terjemahan dari classroom Action Research yaitu suatu Action Research (penelitian tindakan) yang dilakukan di kelas.

Menurut John Elliot (1982) bahwa PTK adalah tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya mencakup; telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh yang menciptakan hubungan antara evaluasi diri dengan perkembangan profesional. Pendapat lain, Kemmis dan Mc Taggart (1988) mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan praktik sosial. Sedangkan Carr dan Kemmis menyatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa, atau kepala sekolah) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari: (a) praktik-parktik sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik tersebut, (c) situasi-situasi (lembaga-lembaga) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Hardjodiputro, 1997).

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran di kelas, sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan. Dengan demikian, PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di kelas, bukan pada input kelas (silabus, materi, dan lain-lain) ataupun output (hasil belajar). PTK harus tertuju atau mengkaji mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas. Agar Anda dapat lebih memahami makna PTK secara utuh dan benar, sebaiknya kita paham dulu makna kelas dalam PTK.

Mau tahu PTK secara rinci dan contoh-contoh PTK? coba klik file berikut dan jika ingin mendownload dipersilahkan, gratis kok…:
1. Modul PTK Revisi_Sunyono
2. LAP AKHIR PTK 05 Baru
3. LAP PTK 06_Sunyono
4. ARTIKEL_PMIPA _Sunyono
5. Artikel Seminar Solo
6. Jurnal Sunyono PMIPA_1
7. Semirata – SUN
8. Mklh Seminar Bandung 07-1
9. Makalah Seminar Bandung_08
10. MAKALAH SEMNAS UNILA 2010
11. Contoh Lembar Observasi Terfokus
12. Contoh Penilaian Psikomotor

Responses

  1. Thanks for the sciencesprings reblog. I appreciate it very much.

    • You’re wellcome

      • ma kasih pa infonya

    • You’re wellcome…

  2. Terima kasih Pak, telah berbagi🙂

    • Sama-sama pak Urip

  3. terima kasih info2’y pak. jurnal bapak saya jadikn sbg referensi tugas akhir saya. klo boleh tau jurnal bapak (https://sunyonoms.files.wordpress.com/2012/12/jurnal-sunyono-pmipa_1.pdf) volume ke berapa ya?

    • Terimakasih telah berkunjung di blog saya. Silahkan dijadikan referensi dan terimakasih. Artikel tersebut di muat pada: Journal Pendidikan MIPA (JPMIPA), Vol 10, Nomor 2, Juli 2009. Hal: 9 – 18

  4. saya tertarik dengan PTK Bapak.. Bisakah nanti melakukan pengembangannya untuk bahan tesis saya Pak? Sekarang sedang melanjutkan di UNNES Pak..

    • Oh… melanjutkan S2 di Unnes…? Ambil pendidikan kimia atau Kimia murni? Insya Alloh, tanggal 28 September 2013 nanti saya ikut seminar nasional Kimia dan Pendidikan kimia di Unnes.

  5. Makasi pak untuk artikel artikelnya…

    • Sama-sama… terimakasih atas kunjungannya.

  6. Trims pak infonya

  7. pak bisa ga minta LKS yang bapak pakai pada PTK 06 klas X

    • File nya sudah hilang…

  8. makasih pa’ ilmunya. mhn izin tuk jadikan referensi

    • Ya, silahkan… Terimakasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: