APA KEDUDUKAN FILSAFAT DALAM SAINS ?

By: SUNYONO

Filsafat berasal dari kata Yunani, yakni philosophia yang berarti adalah cinta (pliilia) kebijaksanaan (sophia). Orang yang mencintai kebijaksanaan disebut juga sebagai philosophos atau filsuf. Ada beberapa pertanyaan tentang apa itu filsafat. Biasanya. ada dua jawaban atas pertanyaan tenting hakikat filsalat. Pertama, filsafat adalah suatu aktivitas, dan bukan suatu mata pelajaran atau mata kuliah saja. Kedua, filsafat juga sering diartikan sebagai suatu analisis konseptual, yakni berpikir tentang pikiran. Kedua argumen ini memang menjelaskan sesauatu, tetapi tampaknya tetap tidak memuaskan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa filsafat adalah suatu aktivitas berpikir tanpa pengandaian apapun. Dengan begitu, filsafat mengajarkan orang untuk berpikir radikal, dalam arti positif, serta mendalam tentang segala sesuatu. Filsafat tidak puas dengan jawaban-jawaban yang terlalu harafiah. Filsafat ingin menggali sampai sedalam-dalamnya.

Filsafat itu sendiri setidaknya dapat dibagi menjadi tiga cabang, yaitu:
a. Metafisika. Metafisika adalah cabang frlsafat yang merefleksikan hakekat dari realitas pada levelnya yang paling abstrak.
b. Epistemologi. Epistemologi adalah cabang filsafat yang merefleksikan tentang kapasitas pengetahuan manusia, hakikat pengetahuan, manusia, dan genesis dari pengetahuan manusia.
c. Etika. Etika adalah cabang filsafat yang merefleksikan tentang hakekat tindakan dan bagaimana manusia harus bertindak di dalam kehidupan dunia.

Filsafat sains bukanlah kosmologi atau filsafat spekulatif tentang alam. Kosmologi adalah ilmu yang beruaya melakukan spekulasi pemikiran tentang proses terciptanya alam semesta, hakekat, dan tujuan dari alam semesta, serta arti dari alam semesta itu. Salah satu contoh pandangan kosmologis spekulatif adalah pemikiran Hegel dan Whitehead. Hegel berpendapat bahwa alam semesta memiliki karakter yang dialektis. Sementara, pada pemikiran Whitehead, alam semesta dipandang sebagai suatu bentuk organisme. Pemikiran-pemikiran semacam itu seringkali irnajinatif, spekulatif, dan bersifat antroposentrik.
Filsafat sains juga bukanlah sosiologi pengetahuan atau psikologi pengetahuan. Sosiologi pengetahuan adalah ilmu yang mempelajari ilmu pengetahuan sebagai sebuah aktivitas sosial, yakni sebagai salah satu bentuk aktivitas sosial di antara aktivitas sosial lainnya.

Secara umum, filsafat ilmu pengetahuan adalah sebuah upaya untuk memahami makna, metode, struktur logis dari ilmu pengetahuan, termasuk juga di dalamnya kriteria-kriteria ilmu pengetahuan, hukum-hukum, dan teori-teori di dalam ilmu pengetahuan. Jadi, dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan berisi tentang penjabaran data, generalisasi dari data-data tersebut, perumusan hukurn, dan teori serta argumentasi terhadapnya. Sementara, filsafat ilmu pengetahuan berisi analisis tentang ilmu pengetahuan, yakni analisis atas konsep-konsep yang digunakan di dalam ilmu pengetahuan, serta analisis atas pendasaran-pendasaran rasional dari ilmu pengetahuan itu.

A. Saintisme
Dalam paparan di berbagai literatur, secara umum menyatakan bahwa saintisme adalah suatu istilah yang digunakan oleh para filsuf untuk menggambarkan apa yang mereka lihat sebagai pemujaan ilmu pengetahuan, yakni suatu sikap yang ironisnya banyak ditemukan di kalangan intelektual. Para pemikir dan pengkritik saintisme berpendapat bahwa ilmu pengetahuan bukanlah satu – satunya jenis kegiatan intelektual manusia yang dapat diandalkan. Ilmu pengetahuan juga tidak seharusnya mendapatkan status yang istimewa, karena dianggap sebagai satu–satunya jalan yang dapat ditempuh manusia untuk sampai pada pengetahuan.
Dalam kehidupan nyata sekarang ini, beberapa orang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan telah memberikan kemudahan pada manusia yang seharusnya tidak perlu. Artinya, kita akan hidup jauh lebih baik dan manusiawi tanpa adanya ilmu pengetahuan. Argumen terakhir ini mungkin relevan, jika ditempatkan pada persoalan tentang penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk menciptakan senjata pemusnah massal. Banyak antropolog juga berpendapat bahwa ilmu pengetahuan modern yang berkembang di Eropa memiliki arogansi kultural, sehingga ilmuwan barat seringkali memandang rendah kebudayaan–kebudayaan lainnya di luar kebudayaan barat.

Metode pendekatan di dalam ilmu–ilmu alam memiliki koherensi dan akurasi yang lebih tinggi daripada ilmu–ilmu sosial. Para ilmuwan sosial telah melakukan analisis yang juga dengan pendekatan ilmu-ilmu alam. Hasilnya adalah banyaknya penggunaan rumusan matematis dan metode statistik di dalam ilmu–ilmu sosial. Di dalam sejarahnya, fisika mengalami perkembangan yang sangat pesat, ketika Galileo memutuskan untuk menerapkan metode matematis untuk mendeskripsikan gerak benda – benda. Keberhasilan ini mempengaruhi para ilmuwan sosial untuk menggunakan metode yang sama untuk mengembangkan ilmu–ilmu sosial. Tentu saja, argumen ini punya pengandaian dasar yang problematis, bahwa objek penelitian di dalam ilmu–ilmu alam dan ilmu–ilmu sosial memiliki kualitas yang sama yang dapat dimatematiskan.

B. Permasalahan Di dalam Ilmu Pengetahuan
Di dalam dunia ilmu pengetahuan sendiri, argumentasi para sosiobiologi ini banyak dikritik dari berbagai pihak. Beberapa diantara kritik tersebut bersifat murni ilmiah. Salah satu argumen kritik tersebut adalah bahwa argumen yang diajukan oleh para sosiobiologi sangat sulit untuk dibuktikan di dalam realitas, sehingga jauh lebih baik ditempatkan sebagai sebuah dugaan (conjecture), dan bukan sebagai sebuah kebenaran. Sosiobiologi adalah sebuah pembenaran bagi tindakan negatif, terutama tindakan–tindakan yang dilakukan oleh pria. Dengan berpendapat bahwa setiap tindakan negatif, seperti menjadi pelaku pemerkosaan misalnya, memiliki aspek genetis, maka secara implisit, para sosiobiologi ini mengatakan bahwa tindak pemerkosaan tersebut adalah sesuatu yang alamiah, dan bahwa sang pemerkosa tidak bertanggungjawab atas tindakan tersebut, karena ia semata–mata hanya mengikuti dorongan genetisnya saja. Dengan demikian, para pengkritik sosiobiologi ini berpendapat bahwa ilmu tersebut sudah sangat mengandung nilai-nilai diskriminatif. Selanjutnya, para pengkritik ini berpandangan bahwa sosiobiologi sangat jauh dari pemikiran peradaban manusia, karena tidak bisa membedakan antara fakta di satu sisi dan nilai (value) di sisi lain.

Kesimpulannya, ilmu pengetahuan sebagai salah satu tiang penyangga peradaban modern dan terkait erat dengan begitu banyak kepentingan di dalam masyarakat, tidak bisa tidak haruslah mendapatkan pertimbangan kritis dari berbagai pihak. Pertimbangan kritis ini adalah sesuatu yang sangat baik, karena penerimaan begitu saja terhadap apapun yang dikatakan oleh para ilmuwan bukanlah suatu sikap yang layak.

Adanya kemajuan teknologi seperti sekarang ini, bukan tidak ada masalah, namun ternyata kemajuan teknologi memunculkan masalah baru yang mulai menyelimuti manusia. Teknologi yang awalnya diciptakan untuk melayani dan mempermudah manusia pada perjalanannya menuju kemaslahatan umat. Kini teknologi mulai berbalik menyerang manusia. Manusia mulai kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. Banyak kemajuan teknologi yang justru merusak lingkungan dan nilai kemanusiaan, bahkan penciptaan senjata pemusnah massal.
Pada dasarnya, tujuan dari perkembangan ilmu pengetahuan (sains) dari sudut aksiologis adalah memperoleh kebahagiaan. Menurut para filsuf muslim, kebahagiaan dalam menuntut ilmu dengan objek keilmuannya, bukan untuk merusak. Karena meteafisika adalah ilmu yang mempelajari “Sebab Pertama atau Tuhan”, yang menempati objek tertinggi ilmu dan sebagai sumber turunnya “wahyu ilahiah”, maka filsafat (metafisika) patut dijadikan basis etis penelitian ilmiah. Kebahagiaan yang dituntut di sini bukan hanya kebahagian fisik yang bersifat sementara. Tapi kebahagiaan hakiki yang bersifat abadi dengan ketenangan jiwa.
Jika kemajuan ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi menyebabkan kerusakan dimuka bumi, itu bukanlah kesalahan dari berkembangannya sains, tetapi manusia yang memanfaatkan sains dengan menggunakan akalnya tanpa tuntunan “wahyu ilahiah” yang menyimpang dari tujuan sains itu sendiri.

Menilik sejarah peradaban keilmuan Islam, sains memang tak bisa dilepaskan dari filsafat. Dari masa ke masa, baik pemerintahan Bani Umayyah dan Abasiyah, tak ada beda antara sains dan filsafat. Bahkan dalam tradisi Islam, filsafat disebut sebagai induk dari ilmu aqliah. Pada tahun 700 dalam pemerintahan Dinasti Umayyah, terbangun observatorium astronomi di Damaskus. Begitu pula pada Dinasti Abasiyah, Khalifah Al-Mansyur diriwayatkan pernah mengumpulkan ilmuan, termasuk dokter-dokter dari Persia sampai India. Ini membuktikan bahwa dalam Islam, sains dan filsafat tetap berdampingan dan tetap terjaga hingga kini.

Jadi, sains atau ilmu pengetahuan selalu berhubung erat dengan filsafat dan cabang-cabang lain seperti metafisika, etika dan sebagainya. Terlebih dalam tradisi filsafat Islam. Sains masih terkait erat dengan filsafat bahkan theologi. Dalam karya Mulyadi Kartanegara (2006) yang berjudul ’Gerbang Kearifan’ dijelaskan bahwa tak ada objek ilmu satu pun yang tak berhubungan dengan dunia metafisik. Para filsuf muslim memandang bahwa terdapat sumber abadi dan sejati bagi apapun yang terjadi di jagad raya ini yang pada gilirannya akan dijadikan objek penelitian. Etika dan Sains merupakan filsafat praktis. Karena keduanya, dalam penerapannya langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Keduanya sama-sama bertujuan memberi solusi atas kesulitan dan masalah yang dihadapi manusia. Misalnya ilmu kedokteran, teknologi telepon / media komunikasi, internet, dan sebagainya. Semua ber-itikad memperlancar dan memberi solusi dari kesulitan yang dihadapi manusia. Usaha pemikiran dan penelitian yang dilakukan secara kritis dan sistematis merupakan cara kerja filsafat. Karena itu, keduanya merupakan cabang dari filsafat.

Sumber Bacaan:
1. Wattimena, R.A., 2008. Filsafat dan Sains. Penerbit: PT. GRASINDO, Jakarta.
2. Titus, H. 1959. Living Issues in Philosophy; an Introductory Textbook, 3th. American Book Company. New York.
3. Suriasumantri, J.S., 2003. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Cet..XVII. Penerbit: Pustaka Sinar Harapan. Jakarta
4. Bidgoli, A.S., 1995. Revelation and Reason in The Thought of of Tabâtabâ’î, with Special Reference to The Question of Freedom in Islam. Tersedia pada: http://digitool.library.mcgill.ca/R/?func=dbin-jump-full&object_id=23240 &local_base=GEN01-MCG02. Diakses pada Tanggal: 26 Januari 2011.
5. Mulyadi Kartanegara, 2006. Gerbang Kearifan. Penerbit: Lentera Hati, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: