MENELAAH PERAN AKAL DAN WAHYU DALAM KEBEBASAN BERFIKIR

BY: SUNYONO

Dunia ini dipenuhi oleh berbagai macam makhluk ciptaan Allah SWT baik yang hidup maupun benda mati, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, batu, besi, bintang, galaksi, dan lain sebagainya. Semua makhluk ini mempunyai tingkatan masing-masing dan manusia merupakan makhluk Tuhan yang istimewa dan tertinggi tingkatnya dibandingkan dengan makhluk lainnya. Allah SWT sebagai ArRabb mengatur alam syahadah dengan hukum-hukumNya untuk mengendalikan berjenis-jenis ciptaanNya itu. Allah sebagai ArRabb (Maha Pengatur) mengendalikan alam semesta dengan hukum-hukumNya yang hingga kini baru dikenal oleh manusia sebagai: medan gravitasi, medan elektromagnet, gaya kuat dan gaya lemah.
Di bumi, tempat kita hidup, ada hukum alam dimana medan gravitasi mengontrol makrokosmos, dan mengendalikan bintang-bintang. Medan elektromagnet mengontrol pasangan proton (bermuatan +) dengan elektron (bermuatan – ). Proton-proton dalam inti atom yang saling tolak-menolak karena bermuatan sama, “direkat” oleh gaya tarik-menarik yang kuat. Sedangkan gaya lemah menyebabkan inti atom seperti misalnya Thorium dan Uranium tidak stabil menjadi “lapuk” terbelah dengan mengeluarkan sinar radioaktif, sehingga Thorium dan Uranium disebut pula zat radioaktif.
Di samping ke-4 jenis itu hukum Allah mengendalikan pula tumbuh-tumbuhan dengan kekuatan bertumbuh dan berkembang biak; kekuatan tumbuh itu dapat melawan kekuatan gravitasi yaitu bertumbuh ke atas melawan tarikan gravitasi ke bawah. Adapun pada binatang ditambah pula lagi dengan kekuatan naluri dengan perlengkapan pancaindera. Dengan kekuatan naluri dan perlengkapan pancaindera itu binatang dapat bergerak ke mana saja menurut kemauannya atas dorongan nalurinya (Abdurrahman, M.N., 2007).
Karena manusia mempunyai ruh, ia mempunyai kekuatan ruhaniyah yaitu akal. Dengan akal itu manusia mempunyai kesadaran akan wujud dirinya. Dengan otak sebagai mekanisme, akal manusia dapat berpikir dan dengan qalbu (hati nurani) sebagai mekanisme akal manusia dapat merasa. Allah menciptakan manusia dalam keadaan, “fiy ahsani taqwiym” (95:4), sebaik-baik kejadian. Kemampuan akal untuk berpikir dan merasa bertumbuh sesuai dengan pertumbuhan diri manusia. Agar manusia dapat mempergunakan akalnya untuk berpikir dan merasa, ia perlu mendapatkan informasi dan pengalaman hidup. Mutu hasil pemikiran dan renungan akal tergantung pada jumlah, mutu dan jenis informasi yang didapatkannya dan dialaminya. Ilmu eksakta, non-eksakta, ilmu filsafat adalah hasil olah akal dengan mekanisme otak. Kesenian dan ilmu tasawuf adalah hasil olah akal dengan qalbu sebagai mekanisme otak dan hati (Abdurrahman, M.N., 2007).
Hasil pemikiran dan renungan anak tamatan SMA lebih bermutu ketimbang hasil pemikiran anak tamatan SD, karena anak tamatan SMA lebih dewasa dan bernalar, lebih bermutu dan lebih beragam jenis informasi yang diperolehnya dan pengalaman yang dialaminya. Jadi kemampuan akal manusia itu relatif sifatnya, baik dalam hal evolusi pertumbuhan mekanisme otak dan qalbunya, maupun dalam hal jumlah, mutu dan ragam informasi yang diperolehnya dan dialaminya. Dengan demikian akan relatif juga, baik untuk memikirkan pemecahan masalah, maupun untuk merenung baik buruknya sesuatu. Oleh karena akal manusia itu terbatas, Allah Yang Maha Pengatur (ArRabb) memberikan pula sumber informasi berupa wahyu yang diturunkan kepada para Rasul yang kemudian disebar luaskan kepada manusia. Pertanyaannya adalah Apakah akal manusia mampu menemukan pengetahuan yang sesungguhnya? Kapan atau pada kondisi bagaimanakah pengetahuan itu valid? Mengapa beberapa keyakinan benar sedangkan yang lainnya salah? (Titus, H., 1959, hal. 63). Selanjutnya oleh Titus (1959, hal. 50) dikatakan bahwa akal sehat atau pikiran merupakan jendela, yang memungkinkan kita menghubungkan alam dan memahami keadaannya. Ini bukan persoalan mental atau netral, dan hal yang biasa (umum) bagi pengamat yang ingin menyelidiki sesuatu. Dengan demikian, akal sangat berperan dalam perkembangan kehidupan manusia. Namun, bagaimana dengan wahyu? Wahyu menurut Abdurrahman, M.N. (2007) menuntun bagaimana akal digunakan manusia untuk berfikir dan bertindak. Bagaimana dengan kebebasan berpendapat atau berfikir. Bagaimanapun kita tidak bisa memaksakan pendapat kita kepada orang lain, karena orang lain pun memiliki kebebasan menggunakan akalnya. Pemaksaan pendapat merupakan kesalahan, dan ini hanya bagian dari alam yang belum sepenuhnya diyakini (Bury, J.B., 2004. hal. 4). Untuk itu, perlu kita kaji bagaimana akal dan wahyu dalam memberikan kebebasan berfikir.

Pembahasan lebih lanjut, silahkan klik file berikut: MENELAAH PERAN AKAL DAN WAHYU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: